Rabu, 18 April 2018

Nyatanya Seperti Itu...


M. Shoim Anwar
Tahi Lalat

ADA tahi lalat di dada istri Pak Lurah. Itu kabar yang tersebar di tempat kami. Keberadaannya seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang-orang masih sungkan untuk mengatakannya secara terbuka. Mereka menyampaikan kabar itu dengan suara pelan, mendekatkan mulut ke telinga pendengar, sementara yang lain memasang telinga lebih dekat ke mulut orang yang sedang berbicara. Mereka manggut-manggut, tersenyum sambil membuat kode gerakan menggelembung di dada dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk ke dada sendiri, sebagai pertanda telah mengerti.
"Awas, ini rahasia. Jangan bilang siapa-siapa!" kata Bakrul memulai pembicaraan sambil mendekatkan telunjuknya ke mulut.
"Di sebelah mana?" aku mengorek.
"Di sebelah kiri, agak ke samping," jawab Bakrul.
"Besar?"
"Katanya sebesar biji randu."
Mungkin karena keberadaannya sudah lebih jelas, akhirnya orang-orang saling memberi kode ketika berpapasan. Bila mereka sedang bergerombol, dan salah satu sudah memberi kode, yang lain mengacungkan jempolnya sebagai tanda mengerti. Bagi yang kurang yakin, pertanyaan akan langsung diteriakkan saat aku lewat.
Karena tak ingin diteriaki terus, aku mengacungkan jempol. Teriakan itu memicu yang lain untuk keluar rumah, lalu menuju pinggir jalan tempat aku lewat. Sebenarnya aku tak enak juga mendengar ejekan terhadap lurahku, meski waktu pemilihan aku tidak mencoblosnya. Maka, sebelum mereka berteriak, aku mengacungkan jempol terlebih dulu. Tapi karena niatnya mungkin mengejek, teriakan mereka pun bertambah santer.
Suara truk pengangkut material untuk pembangunan perumahan menderu-deru di jalan depan rumah yang rusak parah. Debu-debu itu sering dikeluhkan oleh anakku, Laela, setiap pulang sekolah. Entah mengapa Pak Lurah dan perangkatnya tak peduli dengan situasi itu. Pak Lurah justru tampak akrab dan sering keluar bareng dengan mobil pengembang perumahan itu.
"Di luar sana juga ada omongan soal kedekatan istri Pak Lurah dengan bos proyek perumahan," aku membuka pembicaraan dengan istri. "Kedekatan yang gimana lagi?" istriku mendongak. "Bos proyek itu sering datang saat Pak Lurah tidak ada di rumah. Katanya juga pernah keluar bareng."
Bulan depan adalah masa pendaftaran calon lurah atau kepala desa di sini. Konon Pak Lurah akan mencalonkan kembali untuk periode berikutnya. Tak ada yang bisa mencegahnya meski janji-janjinya yang dulu ternyata palsu.
"Ada unsur politik juga kayaknya," kataku pada istri.
"Mengapa istri diikut-ikutkan?" dia mendongak.
"Citra perempuan lebih sensitif untuk dimainkan."
"Pak Lurah telah menceraikan istrinya yang pertama. Ini istri kedua. Andai tetap dengan Bu Lurah yang dulu, tak akan tersiar kabar kayak begini."
"Bisa jadi berita itu datangnya dari suaminya yang dulu."
"Lo, Bu Lurah yang sekarang itu masih perawan. Selisih umurnya katanya dua puluh tahun," istriku menegaskan sambil menyambut Laela yang baru pulang sekolah.
Pak Lurah tak pernah berkomentar atas pembicaraan yang menyangkut istrinya. Kami memilih diam ketika dia lewat. Ini berbeda ketika yang lewat istrinya. Orang-orang mendehem, pura-pura batuk ketika ada istri Pak Lurah, tersenyum dan menyapa basa-basi. Tapi, dari arah belakang, mereka membuat isyarat gerakan gelembung di dada, kemudian menuding-nudingkan telunjuk ke dada sebelah kiri.
Jujur kukatakan, Pak Lurah juga sering menggunakan cara-cara kotor. Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladang dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tinggal di tempat strategis, melalui perangkat desa Pak Bayan, dirayu untuk menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Begitu tanah-tanah yang strategis itu terlepas dari pemiliknya, Pak Lurah semakin gencar membujuk yang lain dengan cara memanggilnya ke kantor kelurahan.
"Kalau tidak mau menjual, akan dipagari oleh pengembang perumahan," begitulah kata-kata intimidasi yang sering dilontarkan Pak Bayan kepada warga.
"Lama-lama desa ini habis terjual," kataku pada Pak Bayan.
"Habis gimana?" jawab Pak Bayan enteng.
"Bilang sama Pak Lurah," aku melanjutkan, "mestinya kehidupan kami diperbaiki agar makmur. Diciptakan lapangan kerja baru. Bukan mengancam agar rakyat menjual tanahnya kayak kompeni."
"Kalau ada perumahan, pasti warga dapat kesempatan kerja."
"Jadi kuli dan babu!" aku menyergah.
Aku yakin, warga asli sini kelak akan jadi buruh pembersih rumput dan tukang sapu di wilayah perumahan. Sambil duduk di tanah, mereka menatap rumah-rumah mewah, dengan badan kurus kurang gizi dan napas kembang kempis digerogoti usia, mereka akan menuding sambil berkata, "Itu dulu tanah milik saya. Batasnya dari sana hingga ke sana. Luaaas sekali.... ."
Semakin mendekati masa pendaftaran calon lurah, berita adanya tahi lalat di dada istri Pak Lurah semakin santer. Bumbu-bumbu pembicaraan makin banyak. Pembicaraan tidak hanya tertumpu pada tahi lalat di dada istri Pak Lurah, tapi meluas hingga sekujur tubuh istri Pak Lurah ditelanjangi.
Aku yakin Pak Lurah dan istrinya sudah mencium kasak-kusuk di sekitarnya. Mungkin untuk mengamankan pencalonannya kembali sebagai lurah, dia sengaja memilih diam dengan harapan pembicaraan itu akan menghilang dengan sendirinya. Tapi, dengan sikap diamnya itu, aku curiga jangan-jangan pembicaraan itu benar adanya. Kata-kata 'diam pertanda setuju' hadir dalam pikiranku. Memang, Pak Lurah dan istrinya serbasalah. Apa pun yang dikatakannya dijamin tidak akan dapat meyakinkan tanpa bukti fisik.
"Apa tidak mungkin jika salah seorang ibu PKK diminta mendekati Bu Lurah?" kataku pada istri.
"Untuk apa?"
"Menanyakan kepastian ada tidaknya tahi lalat itu."
"Terus kalau tidak ada mau apa?"
"Ya biar jelas dong," jawabku pura-pura lega.
"Terus kalau benar-benar ada?" istriku mengejar lagi.
"Orang-orang akan puas," aku bergaya manggut-manggut. "Akhirnya mereka kan berhenti ngrasani."
"Ehmm, untuk apa!" istriku melengos.
Dari awal aku sudah punya pikiran bahwa pembicaraan itu punya maksud lebih besar. Tidak penting apakah di dada istri Pak Lurah ada tahi lalatnya atau tidak. Di sebelah kiri atau kanan juga tak penting. Sebesar biji randu atau sebesar kelapa pun tak masalah. Yang sangat rawan adalah, bila benar-benar ada, kok sampai ada yang tahu? Siapa pun yang mengetahui tahi lalat di tempat rahasia itu pasti dia adalah orang yang punya hubungan khusus dengan istri Pak Lurah. Bila ditafsirkan lagi, perempuan itu sudah menjadi istri Pak Lurah saat menjalin hubungan khusus dengan orang tadi.
Siang yang terik. Truk-truk pengangkut material menderu-deru melewati kampung kami untuk menguruk sawah warga yang telah terbeli. Jalan makin rusak parah. Aku berjalan menyisir di tepi kanan. Dari arah berlawanan tampak mobil Jeep hitam berhenti. Sepertinya telah lama. Beberapa saat muncul Pak Bayan dari arah yang sama. Lelaki itu memacu motornya agak kencang. Kami berpapasan. Pak Bayan tak berkata apa-apa.
Jeep yang tadi berhenti tampak bergerak. Sepertinya gas ditancap sehingga melaju terguncang-guncang di jalan yang bergeronjal. Debu-debu membalutnya. Terasa ada yang aneh. Kendaraan itu melaju makin kencang di sisi kanan. Ternyata Jeep itu menggasakku. Spontan aku meloncat ke seberang parit. Aku tak tahu siapa pengendaranya. Cuk! Tubuhku terjatuh ke rumpun bambu. Duri-duri tajam menancap di sana-sini. Aku berdarah-darah.
Sampai di rumah aku masih tak habis pikir, setan keparat mana yang mengendarai Jeep tadi. Aku mengumpat-ngumpat sendiri. Dari arah depan terdengar suara Laela pulang dari sekolah. Dia setengah berlari menghampiri aku dan ibunya.
"Gambarku bagus, ya?" Laela menyodorkan buku gambarnya yang terbuka.
"Gambar apa ini?" aku bertanya sambil menerimanya.
"Orang."
Anak perempuanku, kelas dua sekolah dasar, menggambar orang dengan rambut sepundak. Wajah dan tubuhnya diberi warna cokelat kekuningan. Bibirnya dibuat merah menyala.
"Ini orang laki apa perempuan?"
"Perempuan," ia menunjuk ke gambarnya. Dada gambar itu memang dibuat kayak ada belahannya dengan disanggah angka tiga menghadap ke atas.
"Terus titik besar berwarna hitam ini apa?"
"Itu tahi lalat," jawab anakku enteng.
"Tahi lalat apa?"
"Tahi lalat di dada istri Pak Lurah."
"Haaa...??!!!" aku heran dan terhenyak. Istriku juga tampak terbengong-bengong. Kami saling memandang. Tak bicara apa-apa. Entah bagaimana ceritanya Laela tiba-tiba menunjukkan gambar perempuan yang bertahi lalat di dadanya. Persis gunjingan yang hari-hari ini kami dengar.
"Ini tahi lalat di dada istri Pak Lurah..." kembali anakku menuding gambar yang telah dibuatnya. Kami hanya tersenyum. Kecut dan heran.

2017

 

KRITIK / TELAAH MENGENAI
CERPEN “TAHI LALAT”

A.           Biodata Penulis
M Shoim Anwar, cerpenis dan penulis sastra. Hasil risetnya tentang jejak Soeharto dalam sastra Indonesia memperoleh banyak apresiasi di kalangan akademisi sastra. Buku fiksi terkininya Kutunggu di Jarwal (2014). Karya sastra yakni cerpen berjudul “Tahi Lalat” ini pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 19 Februari 2017.

B.            Alur Cerita
Desas-desus gosip yang beredar di masyarakat, ada tahi lalat di dada sebelah kiri miliki istri kedua Pak Lurah, tepatnya istri barunya. Percakapan antar penduduk di sana saat menceritakan gosip tersebut menggunakan suara yang pelan sehingga orang yang mendengarkannya memasang telinga lebih dekat pada mulut orang yang sedang becerita. Atau juga menggunakan bahasa isyarat dengan membuat kode gerakan menggelembung di dada dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk kedadanya sendiri, seolah menunjukkan sesuatu.
Penulis tau tentang kejadian tersebut. Jadi, saat ia sedang berjalan dengan santai, ada teriakan-teriakan sedang meneriakinya, seolah mengejek. Dengan sigap ia langsug mengacungkan jempol.
Setelah sesampainya di rumah, ia membuka percakapan dengan istri. Penulis menceritakan kepada sang istri bahwa istri Pak Lurah menjalin kedekatan dengan bos proyek perumahan. Simpang-siur kabar yang beredar, bahwa Pak Lurah ingin mencalonkan diri kembali pada masa pemerintahan di periode berikutnya, walau tidak ada masyarakat yang setuju karena banyak membohongi masyarakat desa. Namun, langkahnya kali ini mengikutkan seorang bos proyek perumahan dan istri barunya.
Tak lama, anak kecil bernama Laela pulang dari sekolah. Ia menggambar seorang wanita dengan rambut pendek dan bibir yang diwarna dengan merah menyala. Penulis dan sang istri tercengang serta tersenyum kecut dan heran melihat gambar anaknya tersebut.

C.           Kelebihan dan Kekurangan
1)             Kelebihan
a)        Pak Lurah tidak perduli terhadap gosip yang berkenaan dengan dirinya dan istri barunya.
b)   Sang pelaku memiliki perilaku yang cerdik. Pura-pua kaget saat mendengar berita tersebut, padahal sebenarnya ia telah megetahui hal tersebut terlebih dahulu. Saat orang-orang mulai heboh dengan berita tentang korbannya, sang pelaku mulai mengalihkan topik pembicaraan.
c)   Hukum alam memang adil. Mereka sama-sama mendapat balasan buruk (karma) terhadap apa yang telah mereka perbuat dulu.
d)     Cerita pendek “Tahi Lalat” ini begitu menarik, rumit, dan mengandung banyak makna didalamnya. Banyak pesan moral yang terkandung di dalamnya.
2)             Kekurangan
a)       Masyarakat yang mudah terpengaruh oleh gosip yang tengah beredar.
b)  Minimnya ilmu pengetahuan dan tingkat pemikiran yang dimiliki masyarakat desa, sehingga orang lain (petinggi) dengan mudah membujuk, memberi beri uang sogokan dan menyebarkan berita palsu (hoax) agar orang yang dituju jatuh nama baiknya.
c)   Pemilihan umum yang dijadikan sebagai ajang balapan, bukan lagi sebagai tugas dan tanggungjawab besar lagi yang besar dalam kepemimpinan.
d)    Masyarakat yang tidak sadar bahwa mereka telah dibohongi oleh petinggi yang ada di sekitarnya. 
D.           Simpulan
Cerpen dengan judul “Tahi Lalat”, menceritakan tentang permasalahan-permasalahan yang sangat heboh, yang kerap terjadi pada saat akan berlangsungnya pemilihan umum. Hal tersebut berfungsi untuk mengalihkan kesalahan-keasalahan yang pernah diperbuat oleh para petinggi pada periode sebelumnya, sehingga masyarakat tidak terfokus pada kesalahan-kesalahan mereka dan mereka berhasil menempati kursi pemimpin pada periode yang akan datang.

E.            Saran
1)             Berhati-hatilah di mana saja. Kejahatan ada di sekitar anda.
2)             Bersikap kritis pada segala itu perlu.
3)             Bagi masyarakat, janganlah mudah terprovokasi oleh gosip-gosip mengenai orang lain yang sedang beredar. Walaupun kenyataannya, gosip itu memang benar-benar ada.
4)             Janganlah melakukan sesuatu atau menceritakan sesuatu kepada anak kecil
5)        Bagi para petinggi, berhentilah membohongi rakyat kecil demi kepentinganmu sendiri. Jangan mengikutsertakan orang lain untuk melakukan tingkah kotormu itu.
6)           Janganlah melakukan hal buruk di masa lalu, jika tak ingin di masa depan mendapat balasan yang lebih buruk.

Senin, 09 April 2018

Salah Langkah


M. Shoim Anwar
                                              
                                                    KE KAWAH PUTIH
Kujilati punuk-punuk Soreang
Sawah-sawah berpetak di kaki gunung
Rumah-rumah di jauh sana
Seperti masa depan tenang dan sunyi
Petani dan kerbau masih  mencumbu nasib
Melawan gedung-gedung yang tak kuasa ditampik

Ke terminal Cipede kuangankan
Bersama para pindang dalam angkot yang pengap
Kawah Putih yang jauh
Sejauh langkah penyair yang terus menggarap sajak-sajaknya
Telah kau sisihkan sekolah pertanianmu
Sebab tanah moyangmu terus mengerut
Jadi semburat tumpukan semen dan batu bata
Seperti nasib kita
Kawah Putih beralih ke investor yang menggelontor
Lalu apa kerja orang-orang kantor?

Bandung, Januari 2015




KRITIK / TELAAH MENGENAI
PUISI “KE KAWAH PUTIH”

A.           Biodata Penulis
M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahiran, beliau melanjutkan kuliah dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor dengan predikat cumlaude. Beliau telah banyak mengeluarkan karya seperti menulis cerpen, esai, dan puisi. 

B.            Alur Cerita
Puisi ini menceritakan tentang perjuangan seseorang yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. Di sana terdapat sawah-sawah berpetak, dan rumah-rumah yang tenang dan asri yang terletak di kaki gunung peninggalan nenek moyangnya. Kehidupan di sana masih banyak didominasi oleh petani dengan kerbaunya dalam membajak sawah. Bisa dkatakan kehidupan orang-orang di sana sangat bekerja keras dibanding orang-orang kantoran yang kerjanya hanya duduk-duduk dikursi di dalam gedung-gedung tinggi.
Seseorang tersebut sempat berpikir untuk beralih pekerjaan bersama orang-orang yang mayoritas bermata pencaharian sebagai penjual. Namun, ia kembali teringat pada kampung halamannya yang sangat jauh. Karena ia telah menyia-nyiakan ilmu pertanian yang telah didapatnya, maka lama-kelamaan tanah peninggalan nenek moyangnya dikuasai oleh para petinggi di kantoran. Mereka jadikan tanah tersebut sebagai rumah yang megah yang mereka jadikan sebagai lahan bisnis mereka.

C.           Kelebihan dan Kekurangan
1)             Kelebihan
a)       Hidup seseorang yang penuh dengan perjuangan.
2)             Kekurangan
a)           Para petinggi yang dengan seenaknya mengambil hak-hak masyarakat miskin.
b)          Seseorang tersebut tidak memiliki kepercayaan yang tinggi pada pekerjaannya, sehingga ia pergi jauh meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. 
D.           Simpulan
Sebuah perjuangan seseorang yang berasal dari Bandung, Jawa Barat untuk mempertahankan tanah warisan leluhur yang bermata pencaharian sebagai petani. Namun ia tergoda oleh pekerjaan yang berupah lebih besar, yang mengharuskan ia pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Karena kampung halamannya ia tinggal, maka datanglah petinggi-petinggi yang menguasai tanah warisan nenek moyangnya, yang mereka jadikan sebagai ladang usaha untuk memperkaya harta mereka dengan merampas hak milik orang lain.
E.            Saran
1)          Sabar dan yakinlah bahwa rezeki telah diatur oleh yang Maha Kuasa
2)          Bersyukurlah terhadap rezeki yang didapat.
3)     Jagalah tanah warisan leluhur, karena hal tersebut merupakan penghargaan dari diri kita terhadap mereka.
4)     Untuk para petinggi, sadarlah bahwa langkah mereka dalam mengambil hak orang lain merupakan keasalahan dan dosa terbesar dalam hidup.

Adakah Janji?


M. Shoim Anwar

 
KEDUNG ADEM


Saat kedung adem mengeringkan rumpun bambumu
Telaga telah menganga dahaga
Kukayuh pedal mencari sisa hujan
Di celah senyum yang tak juah rekah           
Bekisaranmu tak lagi berkokok          
Sangkar di teras telah lama menunggu
Dan ketika hujan datang seperti cinta yang kemaruk
Telaga-telaga melupakan asmaranya
Rumpun merimbun bersama rebung
Bekisar di teras rumahmu melagu merdu
Tapi aku takut mengayuh pedal kembali
Luapan itu bisa melepaskanku di dasar kali
Adakah kau masih menyimpan janji….

 


KRITIK / TELAAH MENGENAI
PUISI “KEDUNG ADEM”

A.           Biodata Penulis
M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahiran, beliau melanjutkan kuliah dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor dengan predikat cumlaude. Beliau telah banyak mengeluarkan karya seperti menulis cerpen, esai, dan puisi. 

B.            Alur Cerita
Puisi dengan judul “Kedung Adem”. Memiliki alur tentang hati sang kekasih yang sangat dingin karena ego yang dimiliki sangat kuat.  Hatinya telah haus dengan kasih sayang. Penulis berusaha mencari sisa-sisa cinta di dalam hati kekasihnya, walau senyum kekasihnya tak nampak lagi. Omelan kekasihnya tidak lagi terdengar. Penulis inginkan kembali pulang dalam hati kekasihnya.  Dan, saat cinta itu datang kembali secara bersamaan, hati dan cinta penulis merasa senang tak terkira karena kekasihnya mulai luluh dan membuka pintu hatinya. Namun, penulis tidak berani menjalin cinta kembali seperti semula karena masa lalu yang pernah dialaminya. Ingatan itu masih sangat segar di otaknya. Ia  juga berpikir, apakah benar kekasihnya masih ingat dengan janji dulu yang pernah mereka buat.
C.           Kelebihan dan Kekurangan
1)             Kelebihan
a)       Penulis menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran, sehingga ia berpikir matang-matang untuk menjalin hubungan kembali.
b)      Tidak patah semangat dalam mencapai keinginannya.
c)       Kata-kata yang dipakai penulis dalam mengibaratkan sangat bersastra.
2)             Kekurangan
a)       Sang penulis kurang berani dalam mengambil resiko lagi dalam mencintai karena telah mengalami pengalaman buruk.
b)          Terlalu fokus dalam memikirkan masa lalu yang pernah terjadi menimpanya. 
D.           Simpulan
Puisi dengan judul “Kedung Adem”. menceritakan tentang penulis yang telah lama menunggu datangnya kembali sang pujaan hati yang telah lama saling berjanji. ingin menjalin kembali cerita cinta bersama kekasihnya, namun ia takut karena masa lalu yang telah menimpanya begitu pekat terasa diingatannya.
E.            Saran
1)            Beranilah dalam mengungkapkan perasaan jika masih memiliki rasa.
2)    Beranilah mengambil resiko. Apabila memang sudah merasa lelah, pergilah mencari seseorang yang dapat membuatmu bahagia.

Cantiknya Maut


M. Shoim Anwar

 
Sorot Mata Syaila


Di Bandara Internasional Abu Dhabi, pukul satu dini hari, detak jantungku makin kencang. Pipi perempuan itu perlahan-lahan menyentuh pundakku. Terasa makin dekat dan hangat. Mulanya dia masih berusaha menegakkan kepalanya kembali beberapa kali, tapi makin lama kesadarannya makin menipis. Pipi itu akhirnya benar-benar menempel dengan pasti. Sebuah penyerahan yang lembut. Ujung hijabnya menyentuh hidungku. Terasa ada aroma parfum Alfa Zahrah. Gaun panjang terusan warna hitam yang dikenakan, abaya, ikut meluruh ke tubuh kiriku.

Aku tak berani bergerak. Ada baiknya berdiam agar dia tak terbangun dengan tiba-tiba. Ini pasti di luar kesadarannya. Malam telah melarut dan payah pun membalut. Hembus napasnya terdengar makin teratur. Tangan perempuan itu menyilang di pangkuannya. Lengan bajunya mengingsut naik. Bulu-bulu panjang tampak tumbuh merebah di lengan. Kulitnya bersih dan cerah membuat bulu-bulu itu tampak dari pangkal tumbuhnya hingga ujung. Sementara kuku-kukunya dipotong agak meruncing, warnanya merah muda seperti buah kurma menua di pohonnya.

Di negeri Uni Emirat Arab ini aku mesti berganti pesawat. Enam jam para penumpang harus menanti. Penerbangan masih harus kutempuh sekitar sembilan jam lagi dengan maskapai Etihad Airways nomor penerbangan EY 474. Jarak masih membentang sekitar 5.594 km lagi. Para penumpang, baik yang transit maupun baru, memenuhi lantai dua. Mereka menanti jadwal masing-masing. Kursi-kursi telah penuh. Sebagian penumpang, sepertinya para pembantu rumah tangga, duduk di lantai. Perempuan yang bersandar di pundakku makin nyaman dalam tidurnya. Beberapa orang sepertinya tersenyum ketika melihat pemandangan itu.

Aku duduk di deretan kursi menghadap ke Sky Bar dan gate 7-8. Lorong menuju ke toilet ada di depan sana. Perempuan itu mulanya mondar-mandir mencari tempat duduk sambil menyeret koper kecil warna cokelat. Sudah beberapa kali dia lewat sambil melihat tempat duduk di dekatku. Kebetulan kursi di sebelah kiriku agak longgar. Aku merasa harus berbagi. Akhirnya aku mengingsut dan mempersilakannya duduk.

Awalnya aku merasa ragu. Maklum di belahan dunia Arab antara laki-laki dan perempuan umumnya dipisahkan dengan ketat. Tapi ini di Abu Dhabi, bukan Kota Suci Makkah atau Madinah yang memerlukan waktu sekitar dua jam dengan pesawat ke sana. Meski awalnya aku tak yakin, perempuan itu akhirnya duduk di sebelahku. Aku membantu menata koper di depannya.

“Syukran,” dia mengucapkan terima kasih.

Beberapa saat aku mencoba menyesuaikan. Laki-laki tua berjenggot panjang di sebelah kirinya juga mengingsutkan duduknya. Sementara lelaki berkulit gelap di sebelah kananku tetap menyandarkan kepalanya di kursi, mendongak dengan mata tertutup dan mulutnya membuka seperti buaya memasang perangkap agar ada mangsa yang masuk. Orang-orang yang duduk ber deret di kursi depan sudah tidak lagi memperhatikan. Kaki mereka kembali berselonjor. Beberapa saat situasi pun tenang kembali.

“Ismii Matalir,” aku memperkenalkan na ma ku. Bukan nama resmi, tapi nama panggilan waktu kecil.

Perempuan itu memandangku. Mungkin dia merasa aneh mendengarnya.

“Maasmuka? Mat…alir?”

Aku mengangguk.

“Ana min Indonesia,” aku melanjutkan. Dia tersenyum dan manggut-manggut. Beberapa saat aku masih memandang ke arahnya. Perempuan muda itu berhidung mancung dan beralis tebal. Kulit mukanya cerah dengan bibir mengilat semu merah. Bulu-bulu lembut di atas bibirnya menguat meski tampak samar.

“Ilaa ayn tadzhab?” aku bertanya ke mana dia pergi.

“Pakistan.”

Kami saling tersenyum. Koper di depannya aku rapikan lagi agar tidak menghalangi orang lewat. Kami berbasa-basi beberapa saat. Dia lalu melihat-lihat telepon selulernya, kemudian menoleh ke arahku kembali.

“Wa anti maasmuki?” aku tanya namanya, meski sadar itu terlalu bernafsu. Dia tak segera menjawab. Aku tetap memandangnya.

“Syaila,” jawabnya kemudian. Nama itu terdengar indah di telingaku. Artinya adalah kobaran api.

Perempuan dari segala penjuru dunia memang boleh datang ke Abu Dhabi. Mereka tidak sedikit yang memakai celana pendek dan kaus oblong. Agak kontras dengan mereka yang memakai cadar. Perempuan muda berhijab dengan wajah terbuka juga lazim dijumpai. Para pramugari milik negeri ini malah memakai span ketat di atas lutut dan baret dengan rambut terbuka. Meski tidak bercadar, pakaian Syaila bagiku sudah nyaris sempurna menutup tubuhnya.

Syaila menanyakan nama maskapai dan kota tujuanku. Dia tahu kalau pesawatku akan take off lebih dulu dibanding dia. Lama-lama pembicaraan kami mulai jarang. Bukan bahan omongan yang mulai habis, tapi bahasa Arabku yang kedodoran sehingga tak bisa mengungkapkan apa yang akan kukatakan. Rasa kantuk mulai menyerang. Detik-detik inilah aku mengetahui Syaila juga mulai di se rang kantuk.

Sekarang aku berpikir persoalanku sendiri. Aku berharap penerbanganku terlambat, bila perlu ditunda dalam waktu yang panjang. Alasan melaksanakan ibadah ke Tanah Suci dan ziarah ke makam nabi-nabi sudah kulalui. Semua itu aku lakukan untuk memperlambat proses hukum sambil mencari terobosan lain, termasuk sengaja tidak hadir saat dipanggil untuk diperiksa penyidik.

Perkara ini tidak melibatkan aku seorang diri. Seluruh keluarga, istri dan anak-anak, juga diperiksa karena diduga teraliri dana dalam bentuk kepemilikan saham perusahaan. Si alan, seorang teman anggota parlemen yang menjadi terdakwa “menyanyi” saat di persidangan, termasuk mengungkap liku-liku pemenangan tender yang telah kami skenariokan untuk perusahaan keluarga. Pengakuan itu bahkan telah masuk dalam berita acara peme riksaan alias BAP. Jumlah kerugian uang negara juga telah disebut.

Ketika beberapa kali disidik oleh pihak kepolisian, aku dapat bocoran bahwa statusku yang semula saksi sudah ditingkatkan menjadi tersangka. Ada yang mengatur agar statusku tidak bocor ke publik. Pada saat itulah aku dengan cepat melarikan diri keluar negeri. Tentu saja dengan beberapa skenario yang sudah kupersiapkan sejak kasusku mulai diungkap. Semua keluarga sudah diskenario agar satu suara, bila perlu bungkam.

Nanti, ketika berkas perkaraku dilimpahkan ke kejaksaan untuk dibuat tuntutan, aku dapat informasi bahwa statusku sebagai tersangka mau tak mau akan terbuka di kejaksaan. Pun sudah ada yang memberi tahu bahwa kejaksaan akan meminta pihak imigrasi untuk mencekal aku pergi ke luar negeri. Dan benar, ketika berita ramai tersiar bahwa aku dicekal, posisiku sudah di luar negeri. Inilah enaknya punya jaringan khusus di lembaga peradilan. Aku merasa sedikit beruntung kasusku ditangani mereka. Andai yang menangani KPK, mungkin aku sudah meringkuk di sel.

Bagiku, pergi melakukan ibadah ke Tanah Suci jauh lebih baik daripada pura-pura sakit ketika diproses secara hukum. Aku toh berdoa sungguh-sungguh. Berita-berita dari tanah air menyatakan bahwa aku buron sehingga beberapa lembaga antikorupsi ikut menempel posterku di tempat-tempat umum. Tapi biarlah orang lain mau bilang apa. Setiap orang punya cara sendiri-sendiri. Termasuk minta diselimuti dan diinfus di rumah sakit kayak orang mau mati. Pura-pura kecelakaan nabrak tiang listrik juga biarlah. Pura-pura mencret akut saat sidang juga ada.

Pengacara yang kusewa dengan harga mahal pasti sudah memberi penjelasan panjang lebar sesuai permintaanku, termasuk mengajukan praperadilan. Ibarat pesta biskuit, dia telah kutaburi remah-remahnya yang tersisa di kaleng. Sambil menikmati rontokan biskuit dia bicara tak henti-henti membelaku, seperti anjing yang sangat setia melindungi tuannya.

Kembali aku melihat-lihat ke sekitar. Arsitektur bandara ini membuatku serasa bernaung di bawah pohon kurma raksasa. Pilar tunggal yang besar berada di tengah dari lantai satu hingga lantai dua. Ujung pilar itu mekar menyerupai daun-daun kurma dan sekaligus membentuk langit-langit secara melingkar dengan motif ornamen segi enam. Stan-stan penjual makanan ringan, minuman, dan sovenir juga ditata melingkar. Di bawah pilar dipajang dagangan sebangsa parfum, alat kecantikan, jam tangan, serta perhiasan dengan harga mahal.

Malam telah bergeser ke dini hari. Orang-orang seperti membeku di kursinya. Kepala Syaila bergerak-gerak. Sepertinya perempuan itu mulai terbangun. Terdengar desah napasnya disertai lenguh yang lembut. Perlahan dia mengangkat kepala dari pundakku. Dia berkedip-kedip melihatku agak lama. Seperti meyakinkan sesuatu yang telah lama hilang. Ekspresinya datar. Aku pun menatapnya. Tanpa bicara apa-apa.

Tangan kanan Syaila perlahan merambat ke pegangan koper. Sambil tetap melihatku, dia bangkit. Matanya berkedip-kedip. Koper itu didorongnya ke depan, lalu melangkah. Beberapa detik setelah itu dia berhenti. Pandangannya masih diarahkan kepadaku. Syaila mengangguk. Mungkin sebagai isyarat pamit. Aku pun mengangguk. Posisi kopernya berganti di belakang. Perempuan itu melangkah lagi. Ada rasa kehilangan melepas kepergiannya.

Baru beberapa langkah berjalan, Syaila kembali membalikkan pandangan. Dia mengangguk. Aku membalas. Tapi dia tak segera beranjak. Seperti ada isyarat lain untukku. Aku pun berdiri. Syaila melangkah lagi. Ada kegamangan dalam diriku. Kali ini aku mulai menangkap maksudnya saat perempuan itu kembali menoleh dan mengangguk dua kali. Aku berjalan ke arahnya. Syaila melanjutkan langkah ketika mengetahui aku mengikuti. Terasa ada dorongan yang makin kuat. Aku meniti di belakang langkahnya.

Syaila menuruni tangga ke lantai satu. Aku membuntut. Dia berbelok ke kiri, menuju ke lorong yang makin sepi karena stan-stan di kanan kiri semuanya tutup. Suasana bertambah senyap. Sesekali perempuan itu menoleh ke arahku dan mengangguk. Sebuah isyarat agar aku terus mengikuti. Lampu-lampu makin meredup. Bunyi sepatu perempuan itu makin jelas. Detaknya memantul ke dinding-dinding lorong yang makin panjang. Abaya hitam yang dikenakan membuatnya makin samar dalam keremangan.

Sampai di pertigaan Syaila berhenti sejenak. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Ketika jarak antara kami tinggal dua tiga langkah, perempuan itu berbelok ke kanan dan mempercepat langkahnya. Aku seperti tersedot mengikuti arusnya. Ternyata ini bukan lantai terakhir. Di ujung lorong ada tangga ke bawah. Dengan langkah makin cepat Syaila meluncur turun. Udara terasa makin pengap dan bau apak mengambang. Lantai tak lagi rata. Di sana-sini ada bekas genangan air. Kesenyapan hampir sempurna membalut. Detak sepatu itu terdengar makin cepat.

“Syaila…,” aku memanggil. Dia menoleh sejenak dan mengangguk. Langkahku makin cepat karena harus mengikutinya. Suasana makin meredup, tinggal satu dua lampu yang tersisa di kejauhan sana. Ada kelepak melintas di depanku. Tubuh Syaila makin samar dibalut remang. Seperti ada kekuatan yang menyedot langkahku untuk terus mengalir. Pantulan detak sepatu Syaila makin menggema dari sudut ke sudut. Lorong ini terasa makin sempit dan berkelok-kelok menyerupai labirin.

“Syaila…,” aku menyeru. Tubuh perempuan itu makin menghablur. Yang kudengar kembali adalah gema suaraku yang memantul-mantul makin keras. Lorong semakin berliku-liku. Syaila tampak seperti bayangan melayang-layang dalam remang. Tiba-tiba ada kabut dingin yang datang. Kembali kuseru nama Syaila. Dalam keremangan samar-samar tampak dia menoleh dan berhenti. Aku melihat bola mata perempuan itu merona dalam kegelapan, berpendar mengeluarkan cahaya kebiruan. Seperti sepasang mata kucing hitam saat di sorot cahaya di kegelapan.

Kembali aku menyeru. Tapi suaraku seperti tercekat di tenggorokan. Sorot sepasang mata Syaila makin kuat menembus kabut. Seperti juga seekor kucing hitam, sosok itu melayang dan menyambarku. Aku terjatuh. Tengkurap di lantai lorong yang basah. Ada bunyi kelepak yang datang menyerbu. Makin riuh di telingaku. Aku membeku.

Beberapa saat kemudian lamat-lamat ganti terdengar suara merintih-rintih memanggilku. Aku berusaha merayap mendekat. Kata-kata “papa” yang disuarakan makin jelas. Sepertinya ada beberapa suara yang memanggilku. Semuanya merintih dengan nada kesakitan.

Lorong ini bukan saja basah, tapi semakin becek dan pesing. Ada tetesan air dari pipa di langit-langit. Aku merayap terengah-engah. Tampak seberkas cahaya di sana. Sampai di tikungan lorong aku mendongak. Cahaya menyorot ke sana. Ah, aku terkejut! Aku melihat istri pertama beserta kedua anakku digantung. Leher mereka dijerat, kaki dan tangannya diserimpung seperti kepompong. Di sebelah mereka aku juga melihat hal yang sama. Istri keduaku beserta dua anaknya juga mengalami hal serupa. Dua orang istri dan empat orang anakku bergelantungan tak berdaya. Seperti menunggu ajal yang segera tiba, mereka merintih-rintih kesakitan.

Aku berusaha meyakinkan diri. Ini bukan mimpi atau sekadar ilusi. Di lorong terdalam Bandara Internasional Abu Dhabi, aku tak berdaya menolong istri-istri dan anak-anakku yang sekarat menghadapi maut. Mereka digantung seperti kambing habis disembelih untuk dikuliti. Barangkali ini adalah ujung dari hidup kami semua. Aku ingin meronta, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Kaki dan tanganku pun terserimpung di lantai lorong yang becek dan pesing.

Lalu di manakah Syaila? Perempuan itu telah melenyap bersama gelap. Sosoknya menghilang tanpa bayang. Sebagai kucing hitam, dia membenam dalam kelam. Aku tersuruk di sini. Menatap kedua istri dan empat anakku yang hampir beku. Seluruh tubuhku juga kaku dan beku. Kelepak itu pun datang kembali bertubi-tubi, terbang mengitari tubuhku untuk dimangsa inci demi inci. ***

Abu Dhabi-Surabaya, 1 Januari 2018
 

KRITIK / TELAAH MENGENAI
CERPEN “SOROT MATA SYAILA”

A.           Judul dan Tempat
Cerpen di atas berjudul “Sorot Mata Syaila”. Puisi di atas adalah sebuah karya sastra yang diciptakan oleh M. Shoim Anwar. Cerpen tersebut merupakan cerpen yang diciptakan di Bandara Internasional Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

B.            Biodata Penulis
M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahiran, beliau melanjutkan kuliah dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor dengan predikat cumlaude. Beliau telah banyak mengeluarkan karya seperti menulis cerpen, esai, dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, antara lain, Oknum, Musyawarah Para Bajingan, Pot dalam Otak Kepala Desa, Sebiji Pisang dalam Perut Jen. 

C.           Alur Cerita
Cerpen dengan judul “Sorot Mata Syaila”, menceritakan tentang seorang pria yang merupakan koruptor berusaha melarikan diri ke luar negeri dari kejaran pihak berwajib, yakni tepatnya di Uni Emirat, Arab. Menurutnya, kabur ke luar negeri lebih elegan daripada berpura-pura sakit dan menyalahkan benda mati untuk menipu dan mengemis perhatian masyarakat agar mereka kasihan kepadanya, dan membayar pengacara sangat mahal untuk membela kesalahan para koruptor, seperti yang telah dilakukan oleh para koruptor lainnya.
Saat ia berada di Bandara Internasional Abu Dhabi, ia bertemu dengan  wanita yang sangat cantik bernama Syaila dengan sorot mata yang tajam dan gaya berpakaiannya yang sedikit berbeda dari lingkungannya, yakni tidak bercadar. Syaila awalnya sangat menjaga jarak dengan koruptor tersebut, namun lama-kelamaan mereka berdua mulai membuka pembicaraan.
Setelah berbincang-bincang agak lama, sehingga kehabisan ide untuk bahan obrolan, mereka berdua mulai terserang kantuk. Dan akhirnya Syaila tidur pada pundak koruptor tersebut. Koruptor itu berdoa agar penerbangannya ditunda lebih lama lagi, karena ia ingin menikmati masa-masa seperti itu lebih lama.
Tak lama kemudian, Syaila terbangun dan segera pergi. Namun koruptor tersebut berusaha mengikuti sambil memanggil nama wanita itu. Syaila sedikit berlari sambil menoleh kebelakang sebagai isyarat bahwa koruptor tersebut harus mengikutinya. Langkah mereka semakin cepat, hingga mereka terhenti pada sebuah lorong yang sangat lembab. Seketika itu koruptor melihat kedua istri dan keempat orang anaknya sedang menikmati ajal mereka akibat perbuatan kepala keluarganya, dan dalam detik itu juga Syaila menghilang, bak malaikat maut. Koruptor berteriak meminta tolong, namun tidak ada yang menolong sehingga mereka mati bersama di ruangan yang sempit dan lembab itu.

D.           Kelebihan dan Kekurangan
1)             Kelebihan
a)           Pemikiran penulis yang masuk akal.
b)          Penulis memiliki rasa empati  yang besar.
c)           Penulis memiliki sikap yang mudah akrab, dengan penguasaan kosakata kata bahasa Arab yang lumayan memadai.
d)          Mudah tertarik dengan seseorang, apalagi dengan wanita yang berparas cantik.
2)             Kekurangan
a)             Tidak memiliki rasa bertanggungjawab dengan apa yang telah ia lakukan.
b)             Tidak memiliki hati nurani, sehingga anak-anak dan istri-istrinya yang menjadi korban akibat perbuatannya. Sedangkan ia sendiri ingin hidup tenang dari kejaran pengadilan.
c)             Tidak memiliki rasa puas karena sudah beristri dua, yang dikaruniai masing-masing dua orang anak. 
E.            Simpulan
Cerpen dengan judul “Sorot Mata Syaila”,  menceritakan tentang penulis yang sedang melakukan aksi pelarian ke luar negeri, tepatnya ke Uni Emirat Arab. Dia melarikan diri karena telah melakukan korupsi besar-besaran di dalam negerinya sehingga dia terhindar dari kejaran pengadilan. Namun, ia tersadarkan oleh wanita cantik yang tidak sengaja ditemuinya di bandara Internasional Abu Dhabi, Emirat Arab.  Wanita tersebut bagai malaikat yang memberinya petunjuk. Setelah ia bertemu dengan keluarganya, wanita tersebut menghilang.
F.            Saran
1)      Bagi para koruptor, janganlah lagi memakan uang negara. Berani berbuat, haruslah berani bertanggungjawab.
2)           Pikirkanlah perasaan orang lain.
3)           Sayangi dan hargai yang engkau miliki.