Dermawati MN
Semu yang Nyata
**SenjaAku bersama dua orang adikku berjalan kaki menyusuri jalan. Jalan raya dan jalan yang memiliki gang sempit. Kami berjalan sejajar, bertiga.
Selama perjalanan, kami tidak bercakap sama sekali. Anehnya lagi, kami tidak tau arah tujuan perjalanan kami hendak ke mana.
*Aku menganggukkan kepala.
*Begitu pula balasan yang dilakukan kedua adikku.
Setelah perjalanan yang kami tempuh agak jauh, tibalah kami di sebuah rumah saudara yang berada di Jalan Sidoyoso Wetan. Di sana, kami bertemu dengan bibi, yakni adik ke-6 dari bapak. Saat kami akan berhenti untuk sekadar berbincang santai di sana, langkah kaki ini tidak mau berhenti.
*Bibi melambaikan tangan dengan melemparkan senyuman sebagai tanda sapaan.
Sikap tersebut yang dilakukan oleh bibi, seolah-olah belia tau tentang apa yang sedang menunggu kami.
Tiba-tiba, kedua adik laki-lakiku hilang. Namun, aku tidak bingung mencari mereka. Langkah kaki ini tetap terus melanjutkan perjalanannya yang tak berarah, menapaki jalan yang beraspal. Aku tidak memikirkan ke mana perginya kedua adikku. Dalam hati, aku hanya senang karena perjalanan yang tak berarah ini, dengan tatapan yang terus menatap jalanan yang beraspal.
Langkah kakiku menuju pada sebuah rumah yang aku rasa tak asing bagiku. Perasaanku mengatakan bahwa rumah itu adalah rumah nenek yang berada di Jalan Granting Baru.
Dalam hati aku berkata, “Sepertinya aku tau jalan ini mau ke mana.”
Ternyata memang benar, rumah itu rumah nenekku. Ibu dari bapak. Hanya saja, aku merasa berbeda. Suasananya sangat sepi. Ruangan-ruangan yang bersudut juga terasa suram.
“Mengapa rumah itu begitu biru laut dan serba biru laut? Mengapa rumah itu memiliki cerobong asap? Mengapa aku tidak mendengar woro-woro bahwa rumah itu dibangun?”, aku bertanya-tanya sendiri dalam hati.
Aku melihat, rumah itu memiliki cerobong asap, asapnya mengepul hingga ke langit. Satu hal lagi yang aneh, rumah itu penuh berwarna biru laut. Serba biru laut. Dari tampilan sisi depannya, tembok-temboknya, dan genting-genting yang ada pada rumah itu. Padahal, sebenarnya, rumah itu tidak seperti itu. Tidak memiliki cerobong asap dan tidak berwarna biru laut.
Setibanya aku di sana, aku memasuki tiap ruangan. Aku clingak-clinguk seperti mencari sesuatu, yang aku sendiri tidak tau apa yang sedang aku cari. Aku bahagia karena dapat bertemu dengan nenekku, bibiku (adik bapak yang ke-7) dan saudara-saudara sepupu yang tinggal di sana.
“Mengapa rumah ini terasa sangat suram?”, gumamku dalam hati.
Aku merasa rumah itu remang-remang pada setiap kamar tidur dan hawa suram juga tercipta karena sangat terasa.
“Atau hanya perasaanku saja?.”
“Ah, ya mungkin,” gumamku lagi.
Aku melanjutkan masuk rumah itu. Berkeliling melihat-lihat isi rumah. Ada satu ruangan yang membuatku terpaku. Di sana, sepupu-sepupuku tampak tertidur pulas dan tenang. Setelah aku puas melihat mereka, aku meninggalkan mereka, mengalihkan pandanganku pada yang lain. aku beralih menemui nenekku. Aku sangat senang bisa melihat beliau. Kami melanjutkan percakapan di ruang tengah.
Aku bertanya, “Mbah, bagaimana keadaannya?”.
(Tersenyum) begitulah jawaban beliau.
Aku masih merasa aneh pada ruang itu. Merasa ada yang beda, tapi tak tau apa yang menjadi pembeda.
Walaupun rumah itu tampak aneh, namun rumah tersebut begitu membahagiakanku. Karena aku suka dengan semua yang berwarna biru laut.
Aku bertanya, “Orang-orang ke mana semua, Mbah? Kok rumahnya sepi banget?.”
(Tersenyum lagi), begitulah jawaban beliau.
Lama aku menikmati suasana rumah itu ditemani nenek, lalu aku berpamitan pulang.
“Yaudah, Mbah. Aku mau pulang,” kataku saat berpamitan sambil tersenyum bahagia.
Kemudian nenek menjawab, “Jangan, jangan pulang dulu.”
“Lho, Mbah. Aku mau pulang,” jawabku masih sambil tersenyum tidak tega untuk pergi.
“Jangan pulang dulu, di sini saja,” jawab Mbahku lagi.
Aku menjawab, “Tidak Mbah, aku mau pulang.”
*Berulang kali kita mengalami perdebatan, dengan percakapan yang sama, dan jawaban yang sama pula.
Jangan pulang, di sini saja,” dengan nada yang agak tinggi.
“Ga, Mbah. Aku mau pulang. Aku lho dijemput bapak,” jawabku dengan nada berusaha meyakinkan nenek.
Setelah kami mengalami perdebatan yang begitu panjang, akhirnya nenek mengizinkanku pulang dengan nada yang tidak ikhlas seperti mengusir.
“Yawes, yawes! Sana pulango!,” jawab mbah dengan nada gusar dan wajah yang marah.
Saat aku menjawab dengan usaha meyakinkan, posisiku di sana agak cemas. Namun keyakinanku bahwa pasti dijemput oleh bapak begitu kuat.
Seketika itu pula, bapakku langsung datang dengan mengandarai sepeda motornya. Beliau datang berhenti tepat di depan pintu rumah itu. Anehnya, pagar rumah tersebut seolah-olah tidak pernah ada.
Anehnya lagi, biasanya bapakku selalu turun dan mencium tangan ibunya saat tiba di rumah ibunya. Namun tidak pada saat itu. Menoleh pun seperti enggan. Mungkin beliau tau tentang sesuatu. Pandangan bapak hanya lurus menatap jalan dengan wajah seperti tidak senang.
Saat itu, aku merasakan dia sepertinya bukan nenekku. nenekku tidak mungkin berwajah marah seperti itu dan beliau tidak mungkin memarahiku seperti itu.
Aku meninggalkan nenek dan segera menuju bapak dan menaiki sepeda motornya. Dan jelas, saat aku menaiki sepeda motor tersebut, aku langsung bangun dari tidurku.
“Ya Allah. Alhamdulillah tadi itu hanya mimpi,”
“Alhamdulillah aku bisa kembali,” gumamku dalam hati dengan nafas yang terengah-engah.
Setelah aku sadar, aku langsung turun dari tempat tidur dan cepat-cepat ke kamar orangtuaku hanya untuk sekadar melihat bapak.
“Apakah bapak baik-baik saja?,” tanyaku dalam hati.
Aku memastikan bapakku sedang tidur dengan nyenyak. Dan, sesampainya di sana,
Dalam hatiku berkata, “Alhamdulillah bapakku masih tidur dengan nyenyak, begitu juga ibuku disampingnya.”
“Terima kasih, Bapak. Engkau perantara yang diberikan Tuhan untukku agar selalu melindungiku, dan doa Ibu yang selalu menyertaiku,”
“Terima kasih banyak, ya Allah,” rasa bersyukur dalam hati yang kuucapkan.
Lalu, aku segera kembali ke tempat tidur, dan melanjutkan tidurku yang diawali dengan berwudhu dan berdoa.
Keesokan paginya aku berpikir,
“Mengapa mbahku seperti itu?”
“Aneh! Seperti bukan mbahku,” gumamku dalam hati.
Aku memang sangat merindukan beliau, namun mengapa beliau seperti itu.
“Aku yakin dia bukan mbahku,” begitu aku meyakinkan dalam diri ini.
Beberapa minggu kemudian, aku memberanikan diri untuk menceritakan semua yang aku alami kepada kedua orangtuaku.
Aku mulai membuka obrolan, “Pak! Bu!”
“Iya, Nak. Ada apa?,” jawab mereka.
“Aku mimpi aneh,” kataku.
*aku mulai menceritakan semua kejadian, dari awal hingga akhir.
“Untung kamu bisa balik. Kalau ga, kamu uda gak ada di sini,” celetuk bapakku.
Ibuku menasehati, “Makanya, kalau dibilangin itu nurut, jangan malah cemberut dan gak nyapa sama semua orang.”
“Heheheheh. Iya, Bu,” jawabku sambil cengengesan.
Sejak saat itu aku bingung dan aku berpikir sangat keras.
“Mengapa bapak bisa datang ke mimpiku?,” “Padahal saat itu aku tidak memberitahu siapa-siapa bahwa hendak ke mana,” tanyaku dalam hati.
Dan, hingga saat ini. Entah dimimpi atau nyata, aku tidak pernah bertemu beliau lagi.
Harapanku adalah, semoga engkau bahagia di alam sana. Cucumu sangat menyayangimu.
Surabaya, 2014
-SELESAI-
