Jumat, 08 Juni 2018

Cerpen Semu Nyata

Dermawati MN
Semu yang Nyata
**Senja
Aku bersama dua orang adikku berjalan kaki menyusuri jalan. Jalan raya dan jalan yang memiliki gang sempit. Kami berjalan sejajar, bertiga.
Selama perjalanan, kami tidak bercakap sama sekali. Anehnya lagi, kami tidak tau arah tujuan perjalanan kami hendak ke mana.
*Aku menganggukkan kepala.
*Begitu pula balasan yang dilakukan kedua adikku.
Setelah perjalanan yang kami tempuh agak jauh, tibalah kami di sebuah rumah saudara yang berada di Jalan Sidoyoso Wetan. Di sana, kami bertemu dengan bibi, yakni adik ke-6 dari bapak. Saat kami akan berhenti untuk sekadar berbincang santai di sana, langkah kaki ini tidak mau berhenti.
*Bibi melambaikan tangan dengan melemparkan senyuman sebagai tanda sapaan.
Sikap tersebut yang dilakukan oleh bibi, seolah-olah belia tau tentang apa yang sedang menunggu kami.
Tiba-tiba, kedua adik laki-lakiku hilang. Namun, aku tidak bingung mencari mereka. Langkah kaki ini tetap terus melanjutkan perjalanannya yang tak berarah, menapaki jalan yang beraspal. Aku tidak memikirkan ke mana perginya kedua adikku. Dalam hati, aku hanya senang karena perjalanan yang tak berarah ini, dengan tatapan yang terus menatap jalanan yang beraspal.
Langkah kakiku menuju pada sebuah rumah yang aku rasa tak asing bagiku. Perasaanku mengatakan bahwa rumah itu adalah rumah nenek yang berada di Jalan Granting Baru.
Dalam hati aku berkata, “Sepertinya aku tau jalan ini mau ke mana.”
Ternyata memang benar, rumah itu rumah nenekku. Ibu dari bapak. Hanya saja, aku merasa berbeda. Suasananya sangat sepi. Ruangan-ruangan yang bersudut juga terasa suram.
“Mengapa rumah itu begitu biru laut dan serba biru laut? Mengapa rumah itu memiliki cerobong asap? Mengapa aku tidak mendengar woro-woro bahwa rumah itu dibangun?”, aku bertanya-tanya sendiri dalam hati.
Aku melihat, rumah itu memiliki cerobong asap, asapnya mengepul hingga ke langit. Satu hal lagi yang aneh, rumah itu penuh berwarna biru laut. Serba biru laut. Dari tampilan sisi depannya, tembok-temboknya, dan genting-genting yang ada pada rumah itu. Padahal, sebenarnya, rumah itu tidak seperti itu. Tidak memiliki cerobong asap dan tidak berwarna biru laut.
Setibanya aku di sana, aku memasuki tiap ruangan. Aku clingak-clinguk seperti mencari sesuatu, yang aku sendiri tidak tau apa yang sedang aku cari. Aku bahagia karena dapat bertemu dengan nenekku, bibiku (adik bapak yang ke-7) dan saudara-saudara sepupu yang tinggal di sana.
“Mengapa rumah ini terasa sangat suram?”, gumamku dalam hati.
Aku merasa rumah itu remang-remang pada setiap kamar tidur dan hawa suram juga tercipta karena sangat terasa.
“Atau hanya perasaanku saja?.”
“Ah, ya mungkin,” gumamku lagi.
Aku melanjutkan masuk rumah itu. Berkeliling melihat-lihat isi rumah. Ada satu ruangan yang membuatku terpaku. Di sana, sepupu-sepupuku tampak tertidur pulas dan tenang. Setelah aku puas melihat mereka, aku meninggalkan mereka, mengalihkan pandanganku pada yang lain. aku beralih menemui nenekku. Aku sangat senang bisa melihat beliau. Kami melanjutkan percakapan di ruang tengah.
Aku bertanya, “Mbah, bagaimana keadaannya?”.
(Tersenyum) begitulah jawaban beliau.
Aku masih merasa aneh pada ruang itu. Merasa ada yang beda, tapi tak tau apa yang menjadi pembeda.
Walaupun rumah itu tampak aneh, namun rumah tersebut begitu membahagiakanku. Karena aku suka dengan semua yang berwarna biru laut.
Aku bertanya, “Orang-orang ke mana semua, Mbah? Kok rumahnya sepi banget?.”
(Tersenyum lagi), begitulah jawaban beliau.
Lama aku menikmati suasana rumah itu ditemani nenek, lalu aku berpamitan pulang.
“Yaudah, Mbah. Aku mau pulang,” kataku saat berpamitan sambil tersenyum bahagia.
Kemudian nenek menjawab, “Jangan, jangan pulang dulu.”
“Lho, Mbah. Aku mau pulang,” jawabku masih sambil tersenyum tidak tega untuk pergi.
“Jangan pulang dulu, di sini saja,” jawab Mbahku lagi.
Aku menjawab, “Tidak Mbah, aku mau pulang.”
*Berulang kali kita mengalami perdebatan, dengan percakapan yang sama, dan jawaban yang sama pula.
Jangan pulang, di sini saja,” dengan nada yang agak tinggi.
“Ga, Mbah. Aku mau pulang. Aku lho dijemput bapak,” jawabku dengan nada berusaha meyakinkan nenek.
Setelah kami mengalami perdebatan yang begitu panjang, akhirnya nenek mengizinkanku pulang dengan nada yang tidak ikhlas seperti mengusir.
“Yawes, yawes! Sana pulango!,” jawab mbah dengan nada gusar dan wajah yang marah.
Saat aku menjawab dengan usaha meyakinkan, posisiku di sana agak cemas. Namun keyakinanku bahwa pasti dijemput oleh bapak begitu kuat.
Seketika itu pula, bapakku langsung datang dengan mengandarai sepeda motornya. Beliau datang berhenti tepat di depan pintu rumah itu. Anehnya, pagar rumah tersebut seolah-olah tidak pernah ada.
Anehnya lagi, biasanya bapakku selalu turun dan mencium tangan ibunya saat tiba di rumah ibunya. Namun tidak pada saat itu. Menoleh pun seperti enggan. Mungkin beliau tau tentang sesuatu. Pandangan bapak hanya lurus menatap jalan dengan wajah seperti tidak senang.
Saat itu, aku merasakan dia sepertinya bukan nenekku. nenekku tidak mungkin berwajah marah seperti itu dan beliau tidak mungkin memarahiku seperti itu.
Aku meninggalkan nenek dan segera menuju bapak dan menaiki sepeda motornya. Dan jelas, saat aku menaiki sepeda motor tersebut, aku langsung bangun dari tidurku.
“Ya Allah. Alhamdulillah tadi itu hanya mimpi,”
“Alhamdulillah aku bisa kembali,” gumamku dalam hati dengan nafas yang terengah-engah.
Setelah aku sadar, aku langsung turun dari tempat tidur dan cepat-cepat ke kamar orangtuaku hanya untuk sekadar melihat bapak.
“Apakah bapak baik-baik saja?,” tanyaku dalam hati.
Aku memastikan bapakku sedang tidur dengan nyenyak. Dan, sesampainya di sana,
Dalam hatiku berkata, “Alhamdulillah bapakku masih tidur dengan nyenyak, begitu juga ibuku disampingnya.”
“Terima kasih, Bapak. Engkau perantara yang diberikan Tuhan untukku agar selalu melindungiku, dan doa Ibu yang selalu menyertaiku,”
“Terima kasih banyak, ya Allah,” rasa bersyukur dalam hati yang kuucapkan.
Lalu, aku segera kembali ke tempat tidur, dan melanjutkan tidurku yang diawali dengan berwudhu dan berdoa.
Keesokan paginya aku berpikir,
“Mengapa mbahku seperti itu?”
“Aneh! Seperti bukan mbahku,” gumamku dalam hati.
Aku memang sangat merindukan beliau, namun mengapa beliau seperti itu.
“Aku yakin dia bukan mbahku,” begitu aku meyakinkan dalam diri ini.
Beberapa minggu kemudian, aku memberanikan diri untuk menceritakan semua yang aku alami kepada kedua orangtuaku.
Aku mulai membuka obrolan, “Pak! Bu!”
“Iya, Nak. Ada apa?,” jawab mereka.
“Aku mimpi aneh,” kataku.
*aku mulai menceritakan semua kejadian, dari awal hingga akhir.
“Untung kamu bisa balik. Kalau ga, kamu uda gak ada di sini,” celetuk bapakku.
Ibuku menasehati, “Makanya, kalau dibilangin itu nurut, jangan malah cemberut dan gak nyapa sama semua orang.”
“Heheheheh. Iya, Bu,” jawabku sambil cengengesan.
Sejak saat itu aku bingung dan aku berpikir sangat keras.
“Mengapa bapak bisa datang ke mimpiku?,” “Padahal saat itu aku tidak memberitahu siapa-siapa bahwa hendak ke mana,” tanyaku dalam hati.
Dan, hingga saat ini. Entah dimimpi atau nyata, aku tidak pernah bertemu beliau lagi.
Harapanku adalah, semoga engkau bahagia di alam sana. Cucumu sangat menyayangimu.

Surabaya, 2014

-SELESAI-







Untukmu, Sayang..

Dermawati MN
BAYANG

Semua berawal dari sini 

Kamu yang masih dalam gelap
Nampak benderang dilamunan
Walau terkadang lambaianmu tersapu angan
Tetaplah indah ku bayangkan
Wajah yang nampak berseri,
Akhlaknya menyejukkan hati,
Kepribadiannya mengagumkan
Bak bintang di tengah gelapnya malam.

Dalam keheningan, aku berdoa
Semoga memang kau nyata

Terbersit sedikit tanya dan rindu
Tentang kamu
Yang masih dalam bayang semakin nyata

Menggenggam rindu dalam jarak

Jarak itu sederhana
Aku bersujud mencium bumi
Dengan doa yang terdengar hingga ke langit
Kuharap dapat kau dengar
Dan menembus pintu hatimu

Suatu saat kita pasti bertemu. Pasti!

Bila hati kita telah terpaut
Aku tak memintamu menjadi semesta
Cukup menjadi seseorang yang mampu menjadi bintang
Di gubuk kebahagiaan kita, nanti…

Puisi - Mengenangmu

Dermawati MN
MENGENANGMU

Pagi-pagi buta, 
Biasanya, di sana dan di sini,
Terdengar merdu suaramu, 
Hingga membuat kesunyian rumah tepecah
Juga aroma harum masakan,
Yang biasa kau sajikan.. 

Jejak langkahmu masih berbekas
Di seluruh sudut rumah yang luas ini
Kenangan indah tentangmu
Masih tersimpan rapi di hati

Ibarat kapal tanpa nahkoda
Semua merasa kehilanganmu
Merindu, teringat masa-masa perjuanganmu..

Kau, orang yang disayang semua orang
Istirahatlah dengan penuh kebahagiaan
Selamat jalan, Ninik.. 
Semoga bahagia di sana.

Bunda Airmata


Emha Ainun Najib
BUNDA AIRMATA
Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan air mata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih
Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan
Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun untuk membuat Tuhan
naik pitam kepada hidupmu
Kalau Ibundamu menangis, para malaikat menjelma
butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dr airmata ibunda
membuat para malaikat itu silau dan marah
kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala
menutup pintu sorga bagimu

KRITIK / TELAAH MENGENAI
PUISI “BUNDA AIRMATA”

A. Biodata Penulis
Budayawan bernama Muhammad Ainun Najib yang juga kita kenal dengan Emha Ainun Najib atau Cak Nun yang lahir pada tanggal 27 Mei 1953, Jombang, Jawa Timur adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung nafas Islami. Emha juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasan-gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya. Kepiawian Cak Nun dalam berpuisi sudah tidak diragukan lagi. Salah satu karya puisi indahnya tentang seroang ibu.

B. Alur Cerita
Puisi ini berjudul “Ibunda Airmata” yang diciptakan dan dibacakan oleh tokoh Emha Ainun Najib atau yang biasa dipanggil dengan Cak Nun. Puisi ini menceritakan tentang betapa berharga dan sangat dilindungilah sosok seorang ibu oleh yang Maha Kuasa. Saat anaknya bersedih dan menangis, sosok ibu yang sangat merasa kesakitan dan sangat bersedih, dan dia bersedia mengusap airmata anaknya. dan saat ibu merasakan kesakitan dan bersedih, Tuhan menyiapkan kebahagiaan bagi beliau dan mengusap airmatanya. Namun saat ibu tersakiti dan beliau meneteskan airmata karena perlakuan anaknya, Tuhan dan para malaikatnya tidak terima dan marah, yang membuat Tuhan murka dan tidak akan membuka pintu surga untuk anaknya.

C. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan
Puisi ini sangat memikat dan membuat hati ikut menangis karena teringat akan dosa-dosa yang telah dilakukan terhadap ibu.
Kata-kata yang digunakan sangat bermakna dan menyentuh.
Kekurangan (tidak ada).

D. Simpulan
Puisinya menurut saya sempurna, ridho Tuhan dan hati seorang ibu sangat dekat dan melekat, sehingga saat kita menginginkan ridho Tuhan, kita harus mendapatkan ridho ibu dahulu.

E. Saran
Puisi ini mengajarkan kita untuk banyak-banyak mengenang ibu dan kasih sayangnya yang begitu dalam, sehingga beliau akan menitikkan air mata untuk setiap kesusahan kita.

ibu

Haddad Alwi feat Farhan
IBU
Bersinar kau bagai cahaya
Yang selalu beri ku penerangan
Selembut citra kasihmu kan
Selalu ku rasa dalam suka dan duka

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Bagaikan embun kesejukan hati ini
Dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Kaulah ibuku cinta kasihku
Pengorbananmu sungguh sangat berarti

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

KRITIK / TELAAH MENGENAI
LAGU “IBU”

A. Biodata Penulis
Haddad Alwi adalah seorang penyanyi religi Islam Indonesia. Beliau lahir di Surakarta pada tanggal 13 Maret 1966. Jika bulan Ramadhan tiba, Haddad Alwi sering membuat lagu – lagu religi untuk menemani para umat Islam di Indonesia dalam menjalankan kekhusukan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Suaranya yang begitu merdu membuat lagu – lagu religi Islami yang dibawakannya begitu memikat hati. Pada tahun 2005, Haddad Alwi masuk ke label rekaman dan merilis album pertama yang mengusung bahasa Arab. Sedangkan single berjudul “IBU” diliris pada tahun 2011 dengan album Muhammad Nabiku 2.

B. Alur Cerita
Lagu berjudul “ibu” yang dinyanyikan oleh Haddad Alwi feat Farhan ini menceritakan tentang sosok ibu yang seperti malaikat di mata anaknya. Cinta, kasih, sayang seorang ibu kepada anaknya sepanjang masa di saat suka maupun duka. Keberadaan dan nasehatnya seperti sinar surya yang sangat menghangatkan dan menentramkan suasana hati. Pengorbanan yang selama ini beliau lakukan tidak dapat digantikan oleh apapun.

C. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan
Lagu berjudul “IBU” ini sangat cocok dan seimbang dengan musiknya. Lagu ini sangat menyentuh dan cara penyampaiannya juga mudah dimengerti.
Sosok penyanyi kecil yang digandeng untuk ikut serta menyanyikan lagu berjudul “IBU” ini sangat berpengaruh dalam masyarakat dan pribadi anak. Dengan cara seperti itu, anak akan lebih menghargai pengorbanan seorang ibu .
Kata-kata yang digunakan sederhana namun memiliki makna yang begitu dalam.
Kekurangan
Liriknya mungkin bisa diperluas, agar tidak mudah bosan.
Penambahan penyanyi cilik dalam menyanyikan lagu ini perlu ditambahi agar lagu semakin menarik.

D. Simpulan
Sosok ibu yang sangat berharga di mata anaknya. Ucapan terima kasih berkali-kali tidak cukup untuk menghargai kerja keras beliau.
E. Saran
Hargailah, cintailah, sayangilah, kasihilah ibu kalian selagi beliau masih hidup. Karena jika beliau telah tiada, cahaya dalam kehidupan akan hilang, dan penyesalan selalu ada.

Pikun dan Sengaja, Beda Tipissss

M. Shoim Anwar
KAKEK
Meski saat berbuka puasa masih sekitar  satu jam lagi, Kakek ternyata sudah duduk menghadap meja makan yang sudah lengkap dengan berbagai masakan. Kalau hanya sekadar duduk tentu tak ada masalah. Tapi Kakek memang kakek. Apa yang dilakukan benar-benar aneh, ganjil, serta menggelikan. Pandangannya tak pernah dialihkan ke yang lain, dia selalu memandangi masakan itu. Sebentar-sebentar dia membuka tutup mangkuk sayur, mengangkat isinya dengan senduk, lalu menciumnya.
            Segar..., katanya manggut-manggut.
            Habis menikmati bausuk, Kakek berganti mengangkat piring ynag berisi daging goreng, diamat-amati dengan teliti, kemudian diciumnya bibir piring itu dengan pelan. Kelihatannya Kakek benar-benar menikmati baunya, matanya dipejamkan sambil menarik napas dengan lembut.
            Lezaaatt..., katanya sambil meletakkan piring .
            Puasa tidak boleh mencium-cium begitu, Mbah, kataku.
            Loh, itu tergantung niatnya, Katanya dengan tenang.
            Apa mencium pakai niat?
            Bukan begitu, mencium hanya untuk mengukur selera, bukan untuk menikmati.
            Tapi kan bisa nanti, Mbah, ketika mulai berbuka. Dicicipi dulu sebelum makan.
            Oaala... mencicipi itu bukan mengukur selera, tapi sudah menikmati.
            Mendengar tangkisan-tangkisan Kakek, Ibu hanya tersenyum. Sambil melengkapi beberapa jamuan, lama-lama Ibu mengatakan padaku bahwa itu sudah menjadi kebiasaan Kakek. Aku sendiri tak tahu sudah berapa lama kebiasaan Kakek. Sudah dua tahun ini aku tidak pulang saat bulan puasa. Dan Kakek ikut keluarga kami juga baru dua tahun, tepatnya sejak aku mulai kuliah ke Jakarta.
            Ketika Ibu meletakkan kolak pisang ke hadapan  Kakek, Kakek langsung menyambutnya dengan muka berseri-seri. Kentara sekali bau asap kolak pisang itu menebarkan aroma yang merangsang. Kakek pun segera bangkit dan mendekatkan hidungnya ke arah asap kolak di atas cawan.
            Benar-benar nikmat... Kata Kakek sambil menepuk-nepuk bibir cawan.
            Puasa kan nggak hanya nahan makan dan minum, Mbah, juga harus menahan nafsu untuk mencium-cium masakan seperti itu. termasuk menahan pandangan, pendengaran, dan ucapan-ucapan yang tidak baik, aku sedih berdalih.
            Tapi Kakek hanya tersenyum, tak ada tanda-tanda keseriusan. Matanya terus berlompatan dari piring satu ke piring yang lain, dari mangkuk satu ke mangkuk yang lain. Tak ada yang terlewati.
            Semua tergantung niatnya Kakek mengulangi jawabannya. Kita punya hidung ya untuk membaui, punya mata ya untuk melihat, punya telinga ya untuk mendengar, punya mulut ya untuk ngomong.
            Tapi hal-hal yang kurang baik itu bisa merusak pahala puasa, Mbah. Bahkan membatalkan.
            Lawong puasa kok karena pahala, katanya dengan nada sangat tenang.
            Lebih baik karena pahala dari pada karena paha.
            Poso-poso kok ngomong jorok.
            Terus karena apa lo, Mbah?
            Ya karena menjalankan perintah agama. Pahala itu urusan Gusti Allah.
            Kakek segera mengambil sebuah mangga dari piring. Buah bewarna jingga itu dielus-elus, diamat-amati, dan akhirnya dicium juga. Lama sekali Kakek menghirup dengan mata terpejam.
            Ah... sedaaaaap...
            Betul kata Ibu. Kebiasaan Kakek ternyata berlangsung terus. Bahkan kadang-kadang, waktu berbuka kurang sekitar satu jam, Kakek sudah siap di meja makan, menciumi seluruh masakan dan menimang-nimang seperti anak kecil. Tetntu saja aku sering melihat Kakek menelan ludahnya karena terangsang oleh bau masakan.
            Lama-lama aku juga tau kebiasaan Kakek yang lain. Kakek ternyata suka mengumpulkan berbagai makanan di kamarnya. Aku sering melihat di kamar Kakek ada jambu yang tadi pagi berjatuhan di kebun karena habis dimakan codot malam harinya, sawo sebiji, kerupuk di plastik, juga beberapa jenis makanan eceran sebangsa jajan pasar. Semuanya disembunyikan di kamar. kakek ternyata seperti anak kecil yang baru belajar puasa. Kalau siang ngeluthus ke kebun-kebun untuk mencari rontokan buah-buahan. Sementara malam harinya aku sering menyaksikan Kakek kekenyangan karena melahap seluruh makanan simpanannya. Itulah sebabnya Kakek kalau sembahyang terawih memeilih yang lebih cepat selesai.
            Kami sekeluarga memang harus bersyukur bahwa kkakek sudi dan berkenan untuk mengerjakan puasa. Sebab, Kakek termasuk orang takhlukan. Artinya, Kkakek mau menjalankan perintah agama belumlah terlalu lama, lebih kurnag empat tahun yang lalu. Sejak masa kanak-kanak hingga setua ini, Kakek hidup dalam lingkup keluarga yang kurang peduli dengan masalah agama. Sementara sejak menikah dengan Bapak, Ibu telah diboyong ke kota lain. Di kota terakhir ini lah Ibu mulai belajar dan menjalankan perintah agama. Tidak seperti di kota kelahirannya.
            Tidak ada yang tahu persis awal kesadaran Kakek. Sejak Nenek meninggal, Kakek memnag sering pergi ke keluarga kami, bahkan hingga beberapa minggu. Mungkin di sini Kakek menyaksikan cara hidup masyarakat yang begitu religius. Setiap waktu sembahyang tiba, terutama saat maghrib, kami selalu mengerjakan bersama-sama. Setelah itu kami, anak-anak, terus belajar membaca Al-quran dengan dibimbing oleh Bapak. Ini tentu berbeda dengan suasana keluarga Kakek saat Ibu masih kecil dulu. Boleh jadi di sini Kakek dihadapkan pada situasi yang membawanya ke keterjutan. Itu terlihat pada awalnya, Kakek seperti minder. Menurut pengakuannya, alif bengkong pun dia tidak mengerti, benar-benar asing dengan Al-quran.
            Mungkin secara iseng-iseng, Bapak menyuruh Ibu untuk mneyediakan sarung dan kopiah untuk Kakek. Ibu menurut. Ibu hanya mengatakan kepada Kakek untuk memakai sarung dan kopiah itu supaya pantas, seperti ornag sini layaknya. Mula-mula Kakek memang malu-malu, tapi dipakainya juga sarung dan kopiah itu.
            Pantas, Mbah, kataku pada saat itu.
            Seperti santri, kata adikku Laila
            Ah bisa-bisa saja, jawab Kakek sambil tersipu-sipu.
            Masak pakai pakaian begini sudah dikatakan santri. Sekarang kan banyak santri yang nggak mau pakai sarung dan kopiah.
            Waktu maghrib pun tiba. Kami lantas sembahyang berjamaah. Sementara Kakek terlihat seperti tak tahu yang harus diperbuat, dia mondar-mandir di ruang depan. Tiba-tiba Yulkifli, adikku yang laki-laki, menyeret Kakek untuk ikut sembahyang. Anak kecil memang belum mampu mengukur perasaan, Kakek digelandang untuk sembahyang. Kakek tentu saja tak mampu menolak. Barangkali saat itulah untuk kali pertama Kakek melakukan (baca: ikut-ikutan) bersembahyang.
            Saat sembahyang berlangsung, terdengar adik-adikku yang kecil tertawa cekikikan menertawakan Kakek. Konsentrasi kami tentu saja terganggu. Seusai sembahyang aku mengetahui bahwa mereka, katanya, melihat Kakek roboh saat melakukan gerakan rukuk. Gerakan Kakek, katanya, juga tidak bisa seragam, tertatih-tatih mengikuti sehingga tertinggal terus. Bahkan Yulkifli mengatakan bahwa saat sembahyang tadi sarung Kakek sempat melorot dan Kopiahnya terjatuh saat sujud.
            Pagi harinya, Kakek tiba-tiba minta pulang. Kami tak mampu mencegahnya. Delapan bulan kemudian Kakek datang lagi. Kali ini terjadi kejutan besar. Kakek ternyata sudah bersembahyang dengan penuh kesadaran. Gerakan-gerakannya sudah fasih. Bahkan dia datang dengan membawa sarung dan kopiah sendiri. Beberapa buku tentang agama islam juga terlihat di dalam tasnya. Kami benar-benar bersyukur atas petunjuk Tuhan  yang diberikan kepada Kakek. Dengan demikian, Kakek bukan saja termasuk Kakek kami, tapi sekaligus keluarga kami. Antara status Kakek dan keluarga memang punya perbedaan besar. Ketika Nabi Nuh tidak berhasil mengajak anaknya untuk naik perahu saat terjadi bencana banjir, karena anaknya memang tidak beriman sehingga memilih jalan sendiri, Nabi Nuh langsung memohon kepada Tuhan, Ya, Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku.
            Tapi karena anak Nabi Nuh tidak beriman, Tuhan langsung berfirman, Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termask keluargamu.
Jadi, status yang lebih hakiki dimata Tuhan adalah keluarga. Dia diikat oleh simpul-simpul keimanan, sementara status anak, kakek, dan semacamnya, adalah sapaan antarmanusia yang dijalin faktor keturunan.
Yang tetap menjadi masalah adalah perbuatan kakek yang terus saja membaui dan mencium-cium segala makanan. Puasa demikian tentu saja terlihat ganjil, tidak arif, dan kurang mampu menahan hawa nafsu terhadap makanan. Jawaban kakek tetap saja sama ketika kami memperingatkan, Semua itu tergantung niatnya. Kami sudah mengatakan bahwa niat harus dibarengi dengan tindakan-tindakan yang tidak menyimpang, niat saja tidak cukup. Pun Kakek tetap saja mengendus-ngendus seperti kucing lapar.
Mbah tidak puasa! Mbah tidak puasa!,
Teriak adikku Laila dengan keras.
Aku segera ke ruang tengah. Ternyata betul, Kakek telah menghabiskan sepiring nasi, padahal masih pukul setengah lima sore.
Lupa! Lupa! kata Kakek sambil menyemburkan sisa-sisa makanan dari mulutnya. Dia lamtas berdiri dengan bengong menatap kami satu persatu.
Namanya lupa ya nggak apa-apa. Kelupaan waktu puasa itu seperti dapat berkha atau rezeki, kata Bapak. Dan Kakek segera ke belakang untuk berkumur.
Makanya jangan nongkrong di meja makan terus, Mbah. Kataku pada Kakek setelahdia tiba kembali di ruang tengah
Apa kamu tidak percaya kalau saya lupa? kakek menegaskan.
Mbah nggak dosa? tanya Yulkifli.
Dosa bagaimana? Justru saya telah mendapat berkah dna rezeki karena lupa, itu kata Bapakmu tadi.
Bapak dan Ibu hanya tersenyum. Sementara Kakek kembali duduk menghadap meja makan. dia mulai memandang seluruh makanan yang ada. Hidungnya terus mengendus-endus. Dan kebiasaan itu tak kunjung berubah dihari-hari berikutnya. Seminggu kemudian, aku mendapati Kakek makan dengan lahap pada pukul lima sore.
Lo, Mbah tidak puasa? aku sepontan bertanya. Kakek seperti terjingkat.
Masya Alloh, saya lupa. Demi Allah lupa, jawab Kakek dengan tandas. Dia langsung berlalri ke belakang. Aku mnejadi ragu-ragu atas kelupaan Kakek sebab beberapa saat sebelum itu aku melihat Kakek mencium-cium seluruh masakan seperti biasanya. Begiut tipisnya batas antara ingat dan lupa.
Tiba-tiba terdnegar suara Yulkifli, Enak juga menjadi orang tua yang gampang lupa. Kalau saat puasa, dapat rezeki dan berkah terus-terusan.
Ha haaaaa...., kami tertawa bersamaan.
Yang penting niatnya, kakek spontan menyahut. Dan dia segera kembali duduk menghadapi meja makan. kali ini matanya tertuju pada ceplok telur!



KRITIK / TELAAH MENGENAI CERPEN KAKEK

A. Biodata Penulis
M Shoim Anwar, cerpenis dan penulis sastra yang karya dan namanya telah melambung tinggi. Karya sastranya pada kali ini berupa cerpen yang berjudul "Kakek yang ditulis pada tahun 2003.

B. Alur Cerita
Dalam cerpen ini, seorang kakek yang memiliki latar belakang keluarga yang sangat peduli dengan agama. Begitu juga dengan tingkah laku, karakteristik, dan kebiasaan lucu seorang kakek. Seorang kakek ini dulunya tidak begitu mengenal agama secara mendalam, hal tersebut dikarenakan lingkungan sekitar yang ia tinggali dulu penduduknya tidak ada yang peduli terhadap agama. Akan tetapi, semenjak kakek tinggal dirumah menantunya yang religius dan peduli akan agama, sang kakek mulai ikut dan taat terhadap perintah agama, seperti melaksanakan sholat dan berpuasa yang sebelumnya tidak pernah ia laksanakan walaupun pada awalnya masih dalam tahap belajar.

C. Kelebihan dan Kekurangan
1) Kelebihan
a) Anak kecil yang sudah bisa mempelajari agama lebih dalam, dan dapat membedakan mana yang harus ditiru dan mana yang tidak.
b) Meningkatnya pemahaman dan pengetahuan agama kakek yang sangat signifikan dalam kurun waktu lebih kurang 1 tahun.
c) Walaupun tingkah laku kakek yang kurang berkenan dan kurang mencontohkan yang baik, tapi keluarga mereka saling menyayangi.
d) Tokoh "kakek" sangat kuat dengan kepercayaan yang ia anut sepanjang hidupnya
2)  Kekurangan
a)  seorang kakek yang seharusnya menjadi guru di dalam suatu keluarga, malah mencontohkan yang tidak baik.
b) Niat kakek yang tidak pernah dijelaskan saat ia bilang "semua tergantung pada niatnya"
c) Kepikunan dijadikan alasan utama seorang tokoh kakek dalam membatalkan puasanya
d) Seorang anak kecil yang melihat kejadian seperti mokel yang dilakukan oleh kakeknya kurang diberi bimbingan oleh keluarganya agar tidak meniru kebiasaan sang kakek.

D. Simpulan
Cerpen dengan judul Kakek, ini menceritakan tentang penggambaran tokoh kakek sebagai seorang sesepuh dan orang yang memiliki karakter serta kepercayaan diri dan pendapat-pendapat yang ia pegang dengan sangat kuat. Sehingga tidak ada yang bisa menyalahkan tingkah laku kakek walaupun sebenarnya tingkah laku tersebut tidak lazim di lingkungan keluarganya yang sedang ia tinggali.

E. Saran
1) Seorang kakek sebagai sosok sesepuh yang seharusnya berwibawa dan mencontohkan tingkah laku yang baik.
2) Kita harus menghargai perbedaan pemikiran, pendapat, dan tingkah laku orang lain di sekitar kita karena kepercayaan yang dianut oleh  seseorang.
3) Jangan mudah mengadili seseorang tentang apa yang dilakukannya meskipun dalam pandangan kita salah, tapi belum tentu pandangan kita benar.
4) Kita harus memberi penjelasan dan alasan yang masuk akal mengenai tindakan yang kita ambil agar orang lain mengerti dan tidak memikirkan hal yang buruk tentang kita.

UANG BERBICARA


Shoim Anwar
PERAMPOK
Perampok yang tertangkap dini hari tadi malam adalah anakmu. Tapi kau tetap saja bersikukuh bahwa semua keluargamu adalah keluarga baik-baik. Masih saja kau bersilat dengan lidahmu yang bercabang-cabang seperti cemara. Padahal kau tahu, aku adalah saksi dari perjalanan hidupmu; seperti sungai yang terjal, menyangkut konvoi bangkai dan kotoran dari hulu hingga muara. Bau busuk, amis, dan anyir tak lepas dari penciumanku sekarang kau mau berkelit apa lagi?
Perampok yang dihajar masa dini hari itu adalah anakmu. Aku tak perlu lagi pengakuan atau penolakanmu. Terlalu sederhana bila kata-katamu kau berondongkan seperti itu. Habiskanlah ludahmu, peraslah energimu, dan bila perlu keluarkan semua timbunan yang bersarang di otakmu. Aku tak akan goyah. Kesaksianku terlalu tegar untuk kau kelabui secara murahan.
Lihatlah tengkukmu sendiri. Kau tentu tak sanggup.itulah kehidupan. Betapa sulit menggerayangi kebobrokan diri sendiri. Kau masih saja berjalan dengan tegar, mengumbar senyum sepanjang jalan, bahkan masih tega mempertontonkan keculasan yang kronis.
Semua adalah fitnah, katamu. Mereka sengaja ingin mendiskreditkan kami sekeluarga.
Kata-kata itu sudah klise, aku menimpali.
Kami bukanlah penyair. Kami tak sanggup merakit kata-kata indah. Ini kenyataan. Kami adalah korban fitnah. Dan itu lebih kejam dari pembunuhan. Jadi, kami punya hak untuk membela diri.
Apalah arti pembelaan jika saya sudah tahu semuanya.
apa yang kamu lihat bukanlah kenyataan.
Maksudnya?
Apiori.
Puih! Kata-kata apa lagi itu?
Menerima kebenaran memang tak mudah. Itu kata-katamu juga kan?
Jangan membalik-balik kenyataan!
Kata-kata itu berlaku untuk kamu juga.
Prek!
Siapa lagi yang tak tahu bahwa perampok sial dini hari tadi adalah anakmu. Bersama gerombolannya dia menggasak dolog. Gudang penyimpanan makanan rakyat itu diodol-odol, digembosi, serta  dikuras dengan berani. Mereka tak mau tahu bahwa dolog itu adalah pengisi perut rakyat. Mereka telah menggerogoti gelombang demi gelombang. Seperti milik bapaknya saja!
Kepuasan ternyata tak kunjung datang. Entah berapa banyak isi dolog itu dikuras. Penduduk yang tadinya tak berani melawan karena takut, lama-lama meledak juga nyali mereka. Dini hari itu kentongan di gardu desa ditabuh. Kentong titir menyentak keheningan malam. Penduduk terbangun. Teriakan menggema di mana-mana. Gerombolan itu dikejar beramai-ramai oleh warga desa. Meraka kabur tunggang langgang. Gerombolan itu berpencar meloloskan diri. Akhirnya, tertangkaplah seorang. Dia adalah anakmu!
Kau masih mau mengelak lagi! Lelaki itu benar-benar anakmu. Perawakannya sedang. Rambutnya pendek. Keningnya agak lebar. Berkumis. Bibir atasnya agak runcing. Sipit matanya. Seperti kamu. Dan aku telah mengenal namanya.
Bunuh dia! teriak salah satu warga desa. Mereka menghajar lelaki itu secara membabi buta.
Gantung!
Hancurkan!
Jangan! Kita harus menangkap dia secara hidup-hidup, biar bisa mengorek informasi lebih lanjut!
Lelaki yang sudah babak belur itu diseret ke depan balai desa. Di bawah lampu yang terang, aku mengamatinya dengan teliti. Percikan-percikan darah terlihat masih basah. Pakaiannya robek dari leher sampai pangkal punggung. Dia merintih-rintih minta ampun. Menggelepar-gelepar di tanah kering seperti cacing kepanasan.
Kau sudah kaya raya masih juga merampok! aku menghardiknya.
Ampunampun
Mulut bisa minta ampun! Tapi nafsu hatimu sekeras batu. Jika kau dibebaskan, pasti kau akan merampok lagi!
Dini hari itu warga desa membangunkan Pak Lurah. Sang perampok dibawa ke hadapannya. Pak Lurah terkejut. Ada ekspresi heran. Pak Lurah tidak menampakkan wajah seram seperti biasanya.
Kamu? suara Pak Lurah lirih.
Perampok itu menatap wajah Pak Lurah dengan sorot mata berbinar. Sepertinya dia memendam harapan. Beberapa saat, tak ada kata-kata. Pak Lurah lantas mendesah panjang.
Sekarang kalian pulang ke rumah masing-masing. Biarlah perampok ini di sini. Kata Pak Lurah pada warga desa.
Nanti dia kabur, Pak, seorang warga menyahut.
Percayalah.
Kami akan tetap di sini, Pak Lurah. Kami tak ingin perampok ini lepas.
Kan ada petugas hansip?
Pak Lurah terlihat berbicara dengan sang perampok, tapi tak terlalu jelas bagi kami. Beberapa saat setelah itu, datanglah mobil patroli. Setelah terlibat pembicaraan dengan Pak Lurah, para polisi itu segera membawa perampok keluar dari desa kami. Entah ke mana.
Kita serahkan urusannya pada pihak yang berwajib. Sekarang pulanglah kalian semua.
Ya, perampok yang dibawa oleh polisi itu adalah anakmu. Aku melihat pada lengan kanannya ada bekas bacokan memanjang. Yang namanya bangkai pasti akan berbau jua. Lewatlah di jalan-jalan, pasti semua orang akan nyinyir memandangmu.
Tiba-tiba aku tersentak. Tengan malam yang pekat, kaca rumahku dihantam dari luar. Tiga kali, kaca pintu dan jendela pecah berantakan. Aku cepat-cepat keluar. Begitu pintu terkuak, sebuah pukulan sekonyong-konyong menancap di pipiku, lantas disusul lagi dengan pukulan-pukulan berikutnya secara beruntun. Beberapa orang serentak mengeroyok aku. Aku menjadi oleng. Seperti ada pula benda keras yang dihantam ke tubuhku. Dan ketika beberapa tendangan mendarat di perut, aku pun roboh. Dalam waktu yang bersamaan aku mendengar ada bunyi sepeda motor meraung-raung. Mereka kemudian kabur dengan cepat.
Ini pasti ulah busuk anakmu. Sebab dua hari setelah itu orang-orang kampung banyak yang melihat bahwa anakmu pulang ke rumah pada malam hari. Dia telah dibebaskan. Beberapa saja yang kaubayarkan sehingga pengadilan pun tercampak ke keranjang sampah.
Beberapa hari setelah itu, aku dipanggil ke kantor polisi. Aku diinterogasi dan dituduhi telah mencemarkan nama baik seseorang. Polisi telah mencecarku dengan segebok pertanyaan. Ternyata yang melaporkan akau adalah kamu! Bangsat!
Kalau toh aku dipenjara karena persekongkolanmu dengan pihak-pihak terkait, biarlah. Toh semua orang sudah tahu. Perampok yang tertangkap dini hari itu adalah anakmu!


Surabaya, 27 Juli 1999



-          TAMAT -

KRITIK DAN ESAI CERPEN "PERAMPOK"

A. Biodata Penulis
M Shoim Anwar seorang cerpenis dan penulis sastra. Karya sastra pada kali ini berupa cerpen yang berjudul Perampok” ditulisnya pada tahun 1999.

B. Alur Cerita
Tokoh "aku" yang mengetahui tentang skandal korupsi atau perampok (sebutan dalam desa), yang telah dilakukan oleh satu keluarga. yang dilanjut langsung menuduh dan mengajak seluruh seluruh masyarakat desa untuk memenjarakan si anak pada pihak berwajib. Tapi nyatanya, hal tersebut dilindungi oleh petinggi desa, yakni Lurah karena mereka ada ikatan keluarga, dilanjut dengan bekerjasama dan meminta perlindungan dari polisi. Karena kejahatan mereka takut terendus lebih jauh, mereka meneror dan memutar balikkan fakta bahwa tokoh "aku" yang bersalah atas tuduhan pencemaran nama baik. Yang seharusnya posisi tokoh "aku" sebagai saksi harus dilindungi.

C.  Kelebihan dan Kekurangan
1)  Kelebihan
a)  Tokoh aku sangat teguh pada fakta kejahatan yang telah ia lihat.
b)  Satu keluarga (kelompok perampok) sangat cantik dalam memainkan peran mereka masing-masing di mata masyarakat
c)  Tokoh "aku" sangat berani menghadapi kejahatan di desanya seorang diri
d)  Tokoh "aku" mau mengorbankan apa saja untuk melindugi masyarakat desa dan membela kebenaran, walaupun ia telah mengeluarkan biaya yang sangat banyak untuk hal tersebut
2) Kekurangan
a) Masyarakat yang kurang aktif dalam membongkar skandal yang terjadi di desa mereka
b) Minimnya ilmu pengetahuan dan tingkat pemikiran yang dimiliki masyarakat desa, sehingga orang lain (petinggi) dengan mudah membujuk
c) Jabatan disalahgunakan untuk kepentingan pribadi
d) Masyarakat yang tidak sadar bahwa mereka telah dibohongi oleh petinggi di desa mereka dan pihak berwajib yang seharusnya mengayomi mereka
e) Hukum sangat lemah

D. Simpulan
Cerpen dengan judul Perampok, ini menceritakan tentang skandal korupsi yang ada telah dilakukan oleh satu keluarga dengan melibatkan pihak berwajib juga di desa mereka. Skandal di desa tersebut lebih dikenal dengan perampok. Di desa, sering kali kedudukan dijadikan sebaga ajang dan alat untuk mengambil hak rakyat dengan sebanyak-banyaknya. Terlebih dengan pihak berwajib, mereka berpihak kepada orang yang beruang, mengesampingkan kewajiban, dan mereka menyatakan bahwa orang tersebut bersalah atau tidak tanpa melihat dari sisi kebenaran dan sisi keadilan.
E. Saran
1) Berhati-hatilah di mana saja. Kejahatan ada di sekitar anda.
2) Bersikap kritis pada segala hal  itu perlu.
3) Bagi masyarakat, jangan mudah percaya kepada petinggi-petinggi dan pihak berwajib.
4) Bagi para petinggi, berhentilah membohongi rakyat kecil demi kepentinganmu sendiri. Jangan mengikutsertakan orang lain untuk melakukan tingkah kotormu itu.
5) Pihak berwajib dan para petinggi seharusnya memegang teguh amanat yang telah ditopang di pundaknya, karena hal tersebut merupakan tanggungjawab yang sangat besar dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti.
6) Janganlah melakukan hal buruk di masa lalu, jika tak ingin di masa depan mendapat balasan yang lebih buruk.
7) Harus ada sanksi tegas dalam penegakan hukum.