Rabu, 18 April 2018

Kangennn


Dewa 19
                                              

KANGEN

Ku terima suratmu yang kubaca dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku
Di dalam hari-harimu, bersama lagi

Kau bertanya padaku
Kapan aku akan kembali lagi
Katamu kau tak kuasa melawan gejolak di dalam dada
Yang membara menahan rasa pertemuan kita nanti
Saat kau ada di sisiku

Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya
Menahan rasa, ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu
Ku akan pulang
Melepas semua kerinduan yang terpendam

Kau tuliskan padaku
Kata cinta yang manis dalam suratmu
Kau katakan padaku
Saat ini ku ingin hangat pelukmu dengan belai lembut kasihmu
Takkan ku lupa selamanya
Saat bersama dirimu

Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya
Menahan rasa, ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu
Ku akan pulang
Melepas semua kerinduan yang terpendam

Jangan katakan cinta
Menambah beban rasa
Sudah simpan saja sedihmu itu
Ku akan datang


1992





KRITIK / TELAAH MENGENAI
LAGU “KANGEN”

A.           Biodata Penulis
Dewa 19 adalah sebuah grup yang dibentuk pada tahun 1986 Surabaya, Indonesia. Oleh empat siswa SMP 6 Surabaya yaitu Ahmad Dhani Munaf (Dhani), Erwin Prasetyo (Erwin), Wawan Juniarso (Wawan), dan Andra Ramadhan (Andra). Dewa 19 adalah album pertama karya grup band Dewa 19 yang dirilis pada tahun 1991. Album ini merupakan satu-satunya album Dewa 19 dirilis di bawah label Team Records. Singel pertama dari album ini adalah “Kangen” yang sukses menjadi all time-hits. lagu berjudul “Kangen” dirilis pada 6 Januari 1992 dengan durasi 40:42. Berlabel Aquarius Musikindo. Lagu ini telah beberapa kali direkam ulang, termasuk duet antara Chrisye dan Sophia Latjuba pada tahun 2002. Album ini juga menelurkan hits lainnya seperti “Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi”, yang dipopulerkan ulang oleh ‘Ratu’ pada tahun 2003. Album pertama Dewa 19 ini mendapat sambutan yang sangat bagus dan berhasil memenangkan penghargaan BASF Awards sebagai “Album Terlaris 1993”.

B.            Alur Cerita
Lagu ini menceritakan tentang seorang perempuan yang kangen terhadap kekasihnya yang ada di perantauan. Si perempuan menulis surat bahwa ia sedang mengharap kehadiran sang kekasih di sisinya. Kata-kata cinta yang manis dan hangat pelukan dengan belaian lembut kasih juga ia tuliskan.  Di samping itu, ia juga bertanya kapan kekasihnya pulang ke kampung halamannya, karena ia telah merindu berat saat bertemu nanti. Sang kekasih semakin tak kuasa menahan kangen ingin segera bertemu saat membaca surat dari si perempuan. Sang kekasih berjanji bahwa ia pasti pulang untuk membayar rasa saling rindunya yang begitu berat. Dalam hati sang kekasih, ia meminta pada si perempuan agar jangan menambah beban rindu yang sudah terlalu berat dengan mengungkapkan rasa cinta. Simpan saja kesedihan karena kangen itu. Sang kekasih pasti pulang menemuinya.

C.           Kelebihan dan Kekurangan
1)             Kelebihan
a)      Lagu yang lumayan rumit untuk dikritik.
b)      Mereka saling mencintai, sehingga kadar kangen mereka sama-sama berat.
c)      Kata-kata yang digunakan sederhana namun memiliki makna yang begitu dalam.
2)             Kekurangan
a)   Si perempuan yang agak manja dalam menyatakan kerinduannya.
b) Si laki-laki yang tidak betah mendengar si perempuan menangis keluh kesah karena kangen yang begitu dalam, sehingga si laki-laki menjawab dengan nada agak meninggi.
c)  Si perempuan kurang percaya pada si laki-laki bahwa kekasihnya pasti pulang untuk menemuinya. 
D.           Simpulan
Perempuan dan perasaannya sangat dihargai, seperti pada lagu ini. Sifat perempuan pada dasarnya memang manja. Namun, tidak semua perempuan berani mengungkapkan perasaannya. Bisa dilihat dari lagu ini, perempuan berani meluapkan perasaan cinta dan manjanya melalui selembar surat. Sehingga membuat hati kekasihnya luluh dan cepat-cepat ingin pulang dikarenakan kangen.
E.            Saran
1)           Jagalah cinta yang masih engkau miliki. Pupuklah cinta itu dan siramilah selalu.
2)        Hargai apa yang kamu miliki walaupun itu menyebalkan. Karena yang menyebalkan pada akhirnya akan dikangeni.
3)          Percayalah pada pasanganmu jika kau juga ingin dipercaya dan ingin dipertahankan.



Sumber:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Dewa_19_(album)

Nyatanya Seperti Itu...


M. Shoim Anwar
Tahi Lalat

ADA tahi lalat di dada istri Pak Lurah. Itu kabar yang tersebar di tempat kami. Keberadaannya seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang-orang masih sungkan untuk mengatakannya secara terbuka. Mereka menyampaikan kabar itu dengan suara pelan, mendekatkan mulut ke telinga pendengar, sementara yang lain memasang telinga lebih dekat ke mulut orang yang sedang berbicara. Mereka manggut-manggut, tersenyum sambil membuat kode gerakan menggelembung di dada dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk ke dada sendiri, sebagai pertanda telah mengerti.
"Awas, ini rahasia. Jangan bilang siapa-siapa!" kata Bakrul memulai pembicaraan sambil mendekatkan telunjuknya ke mulut.
"Di sebelah mana?" aku mengorek.
"Di sebelah kiri, agak ke samping," jawab Bakrul.
"Besar?"
"Katanya sebesar biji randu."
Mungkin karena keberadaannya sudah lebih jelas, akhirnya orang-orang saling memberi kode ketika berpapasan. Bila mereka sedang bergerombol, dan salah satu sudah memberi kode, yang lain mengacungkan jempolnya sebagai tanda mengerti. Bagi yang kurang yakin, pertanyaan akan langsung diteriakkan saat aku lewat.
Karena tak ingin diteriaki terus, aku mengacungkan jempol. Teriakan itu memicu yang lain untuk keluar rumah, lalu menuju pinggir jalan tempat aku lewat. Sebenarnya aku tak enak juga mendengar ejekan terhadap lurahku, meski waktu pemilihan aku tidak mencoblosnya. Maka, sebelum mereka berteriak, aku mengacungkan jempol terlebih dulu. Tapi karena niatnya mungkin mengejek, teriakan mereka pun bertambah santer.
Suara truk pengangkut material untuk pembangunan perumahan menderu-deru di jalan depan rumah yang rusak parah. Debu-debu itu sering dikeluhkan oleh anakku, Laela, setiap pulang sekolah. Entah mengapa Pak Lurah dan perangkatnya tak peduli dengan situasi itu. Pak Lurah justru tampak akrab dan sering keluar bareng dengan mobil pengembang perumahan itu.
"Di luar sana juga ada omongan soal kedekatan istri Pak Lurah dengan bos proyek perumahan," aku membuka pembicaraan dengan istri. "Kedekatan yang gimana lagi?" istriku mendongak. "Bos proyek itu sering datang saat Pak Lurah tidak ada di rumah. Katanya juga pernah keluar bareng."
Bulan depan adalah masa pendaftaran calon lurah atau kepala desa di sini. Konon Pak Lurah akan mencalonkan kembali untuk periode berikutnya. Tak ada yang bisa mencegahnya meski janji-janjinya yang dulu ternyata palsu.
"Ada unsur politik juga kayaknya," kataku pada istri.
"Mengapa istri diikut-ikutkan?" dia mendongak.
"Citra perempuan lebih sensitif untuk dimainkan."
"Pak Lurah telah menceraikan istrinya yang pertama. Ini istri kedua. Andai tetap dengan Bu Lurah yang dulu, tak akan tersiar kabar kayak begini."
"Bisa jadi berita itu datangnya dari suaminya yang dulu."
"Lo, Bu Lurah yang sekarang itu masih perawan. Selisih umurnya katanya dua puluh tahun," istriku menegaskan sambil menyambut Laela yang baru pulang sekolah.
Pak Lurah tak pernah berkomentar atas pembicaraan yang menyangkut istrinya. Kami memilih diam ketika dia lewat. Ini berbeda ketika yang lewat istrinya. Orang-orang mendehem, pura-pura batuk ketika ada istri Pak Lurah, tersenyum dan menyapa basa-basi. Tapi, dari arah belakang, mereka membuat isyarat gerakan gelembung di dada, kemudian menuding-nudingkan telunjuk ke dada sebelah kiri.
Jujur kukatakan, Pak Lurah juga sering menggunakan cara-cara kotor. Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladang dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tinggal di tempat strategis, melalui perangkat desa Pak Bayan, dirayu untuk menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Begitu tanah-tanah yang strategis itu terlepas dari pemiliknya, Pak Lurah semakin gencar membujuk yang lain dengan cara memanggilnya ke kantor kelurahan.
"Kalau tidak mau menjual, akan dipagari oleh pengembang perumahan," begitulah kata-kata intimidasi yang sering dilontarkan Pak Bayan kepada warga.
"Lama-lama desa ini habis terjual," kataku pada Pak Bayan.
"Habis gimana?" jawab Pak Bayan enteng.
"Bilang sama Pak Lurah," aku melanjutkan, "mestinya kehidupan kami diperbaiki agar makmur. Diciptakan lapangan kerja baru. Bukan mengancam agar rakyat menjual tanahnya kayak kompeni."
"Kalau ada perumahan, pasti warga dapat kesempatan kerja."
"Jadi kuli dan babu!" aku menyergah.
Aku yakin, warga asli sini kelak akan jadi buruh pembersih rumput dan tukang sapu di wilayah perumahan. Sambil duduk di tanah, mereka menatap rumah-rumah mewah, dengan badan kurus kurang gizi dan napas kembang kempis digerogoti usia, mereka akan menuding sambil berkata, "Itu dulu tanah milik saya. Batasnya dari sana hingga ke sana. Luaaas sekali.... ."
Semakin mendekati masa pendaftaran calon lurah, berita adanya tahi lalat di dada istri Pak Lurah semakin santer. Bumbu-bumbu pembicaraan makin banyak. Pembicaraan tidak hanya tertumpu pada tahi lalat di dada istri Pak Lurah, tapi meluas hingga sekujur tubuh istri Pak Lurah ditelanjangi.
Aku yakin Pak Lurah dan istrinya sudah mencium kasak-kusuk di sekitarnya. Mungkin untuk mengamankan pencalonannya kembali sebagai lurah, dia sengaja memilih diam dengan harapan pembicaraan itu akan menghilang dengan sendirinya. Tapi, dengan sikap diamnya itu, aku curiga jangan-jangan pembicaraan itu benar adanya. Kata-kata 'diam pertanda setuju' hadir dalam pikiranku. Memang, Pak Lurah dan istrinya serbasalah. Apa pun yang dikatakannya dijamin tidak akan dapat meyakinkan tanpa bukti fisik.
"Apa tidak mungkin jika salah seorang ibu PKK diminta mendekati Bu Lurah?" kataku pada istri.
"Untuk apa?"
"Menanyakan kepastian ada tidaknya tahi lalat itu."
"Terus kalau tidak ada mau apa?"
"Ya biar jelas dong," jawabku pura-pura lega.
"Terus kalau benar-benar ada?" istriku mengejar lagi.
"Orang-orang akan puas," aku bergaya manggut-manggut. "Akhirnya mereka kan berhenti ngrasani."
"Ehmm, untuk apa!" istriku melengos.
Dari awal aku sudah punya pikiran bahwa pembicaraan itu punya maksud lebih besar. Tidak penting apakah di dada istri Pak Lurah ada tahi lalatnya atau tidak. Di sebelah kiri atau kanan juga tak penting. Sebesar biji randu atau sebesar kelapa pun tak masalah. Yang sangat rawan adalah, bila benar-benar ada, kok sampai ada yang tahu? Siapa pun yang mengetahui tahi lalat di tempat rahasia itu pasti dia adalah orang yang punya hubungan khusus dengan istri Pak Lurah. Bila ditafsirkan lagi, perempuan itu sudah menjadi istri Pak Lurah saat menjalin hubungan khusus dengan orang tadi.
Siang yang terik. Truk-truk pengangkut material menderu-deru melewati kampung kami untuk menguruk sawah warga yang telah terbeli. Jalan makin rusak parah. Aku berjalan menyisir di tepi kanan. Dari arah berlawanan tampak mobil Jeep hitam berhenti. Sepertinya telah lama. Beberapa saat muncul Pak Bayan dari arah yang sama. Lelaki itu memacu motornya agak kencang. Kami berpapasan. Pak Bayan tak berkata apa-apa.
Jeep yang tadi berhenti tampak bergerak. Sepertinya gas ditancap sehingga melaju terguncang-guncang di jalan yang bergeronjal. Debu-debu membalutnya. Terasa ada yang aneh. Kendaraan itu melaju makin kencang di sisi kanan. Ternyata Jeep itu menggasakku. Spontan aku meloncat ke seberang parit. Aku tak tahu siapa pengendaranya. Cuk! Tubuhku terjatuh ke rumpun bambu. Duri-duri tajam menancap di sana-sini. Aku berdarah-darah.
Sampai di rumah aku masih tak habis pikir, setan keparat mana yang mengendarai Jeep tadi. Aku mengumpat-ngumpat sendiri. Dari arah depan terdengar suara Laela pulang dari sekolah. Dia setengah berlari menghampiri aku dan ibunya.
"Gambarku bagus, ya?" Laela menyodorkan buku gambarnya yang terbuka.
"Gambar apa ini?" aku bertanya sambil menerimanya.
"Orang."
Anak perempuanku, kelas dua sekolah dasar, menggambar orang dengan rambut sepundak. Wajah dan tubuhnya diberi warna cokelat kekuningan. Bibirnya dibuat merah menyala.
"Ini orang laki apa perempuan?"
"Perempuan," ia menunjuk ke gambarnya. Dada gambar itu memang dibuat kayak ada belahannya dengan disanggah angka tiga menghadap ke atas.
"Terus titik besar berwarna hitam ini apa?"
"Itu tahi lalat," jawab anakku enteng.
"Tahi lalat apa?"
"Tahi lalat di dada istri Pak Lurah."
"Haaa...??!!!" aku heran dan terhenyak. Istriku juga tampak terbengong-bengong. Kami saling memandang. Tak bicara apa-apa. Entah bagaimana ceritanya Laela tiba-tiba menunjukkan gambar perempuan yang bertahi lalat di dadanya. Persis gunjingan yang hari-hari ini kami dengar.
"Ini tahi lalat di dada istri Pak Lurah..." kembali anakku menuding gambar yang telah dibuatnya. Kami hanya tersenyum. Kecut dan heran.

2017

 

KRITIK / TELAAH MENGENAI
CERPEN “TAHI LALAT”

A.           Biodata Penulis
M Shoim Anwar, cerpenis dan penulis sastra. Hasil risetnya tentang jejak Soeharto dalam sastra Indonesia memperoleh banyak apresiasi di kalangan akademisi sastra. Buku fiksi terkininya Kutunggu di Jarwal (2014). Karya sastra yakni cerpen berjudul “Tahi Lalat” ini pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 19 Februari 2017.

B.            Alur Cerita
Desas-desus gosip yang beredar di masyarakat, ada tahi lalat di dada sebelah kiri miliki istri kedua Pak Lurah, tepatnya istri barunya. Percakapan antar penduduk di sana saat menceritakan gosip tersebut menggunakan suara yang pelan sehingga orang yang mendengarkannya memasang telinga lebih dekat pada mulut orang yang sedang becerita. Atau juga menggunakan bahasa isyarat dengan membuat kode gerakan menggelembung di dada dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk kedadanya sendiri, seolah menunjukkan sesuatu.
Penulis tau tentang kejadian tersebut. Jadi, saat ia sedang berjalan dengan santai, ada teriakan-teriakan sedang meneriakinya, seolah mengejek. Dengan sigap ia langsug mengacungkan jempol.
Setelah sesampainya di rumah, ia membuka percakapan dengan istri. Penulis menceritakan kepada sang istri bahwa istri Pak Lurah menjalin kedekatan dengan bos proyek perumahan. Simpang-siur kabar yang beredar, bahwa Pak Lurah ingin mencalonkan diri kembali pada masa pemerintahan di periode berikutnya, walau tidak ada masyarakat yang setuju karena banyak membohongi masyarakat desa. Namun, langkahnya kali ini mengikutkan seorang bos proyek perumahan dan istri barunya.
Tak lama, anak kecil bernama Laela pulang dari sekolah. Ia menggambar seorang wanita dengan rambut pendek dan bibir yang diwarna dengan merah menyala. Penulis dan sang istri tercengang serta tersenyum kecut dan heran melihat gambar anaknya tersebut.

C.           Kelebihan dan Kekurangan
1)             Kelebihan
a)        Pak Lurah tidak perduli terhadap gosip yang berkenaan dengan dirinya dan istri barunya.
b)   Sang pelaku memiliki perilaku yang cerdik. Pura-pua kaget saat mendengar berita tersebut, padahal sebenarnya ia telah megetahui hal tersebut terlebih dahulu. Saat orang-orang mulai heboh dengan berita tentang korbannya, sang pelaku mulai mengalihkan topik pembicaraan.
c)   Hukum alam memang adil. Mereka sama-sama mendapat balasan buruk (karma) terhadap apa yang telah mereka perbuat dulu.
d)     Cerita pendek “Tahi Lalat” ini begitu menarik, rumit, dan mengandung banyak makna didalamnya. Banyak pesan moral yang terkandung di dalamnya.
2)             Kekurangan
a)       Masyarakat yang mudah terpengaruh oleh gosip yang tengah beredar.
b)  Minimnya ilmu pengetahuan dan tingkat pemikiran yang dimiliki masyarakat desa, sehingga orang lain (petinggi) dengan mudah membujuk, memberi beri uang sogokan dan menyebarkan berita palsu (hoax) agar orang yang dituju jatuh nama baiknya.
c)   Pemilihan umum yang dijadikan sebagai ajang balapan, bukan lagi sebagai tugas dan tanggungjawab besar lagi yang besar dalam kepemimpinan.
d)    Masyarakat yang tidak sadar bahwa mereka telah dibohongi oleh petinggi yang ada di sekitarnya. 
D.           Simpulan
Cerpen dengan judul “Tahi Lalat”, menceritakan tentang permasalahan-permasalahan yang sangat heboh, yang kerap terjadi pada saat akan berlangsungnya pemilihan umum. Hal tersebut berfungsi untuk mengalihkan kesalahan-keasalahan yang pernah diperbuat oleh para petinggi pada periode sebelumnya, sehingga masyarakat tidak terfokus pada kesalahan-kesalahan mereka dan mereka berhasil menempati kursi pemimpin pada periode yang akan datang.

E.            Saran
1)             Berhati-hatilah di mana saja. Kejahatan ada di sekitar anda.
2)             Bersikap kritis pada segala itu perlu.
3)             Bagi masyarakat, janganlah mudah terprovokasi oleh gosip-gosip mengenai orang lain yang sedang beredar. Walaupun kenyataannya, gosip itu memang benar-benar ada.
4)             Janganlah melakukan sesuatu atau menceritakan sesuatu kepada anak kecil
5)        Bagi para petinggi, berhentilah membohongi rakyat kecil demi kepentinganmu sendiri. Jangan mengikutsertakan orang lain untuk melakukan tingkah kotormu itu.
6)           Janganlah melakukan hal buruk di masa lalu, jika tak ingin di masa depan mendapat balasan yang lebih buruk.

Senin, 09 April 2018

Salah Langkah


M. Shoim Anwar
                                              
                                                    KE KAWAH PUTIH
Kujilati punuk-punuk Soreang
Sawah-sawah berpetak di kaki gunung
Rumah-rumah di jauh sana
Seperti masa depan tenang dan sunyi
Petani dan kerbau masih  mencumbu nasib
Melawan gedung-gedung yang tak kuasa ditampik

Ke terminal Cipede kuangankan
Bersama para pindang dalam angkot yang pengap
Kawah Putih yang jauh
Sejauh langkah penyair yang terus menggarap sajak-sajaknya
Telah kau sisihkan sekolah pertanianmu
Sebab tanah moyangmu terus mengerut
Jadi semburat tumpukan semen dan batu bata
Seperti nasib kita
Kawah Putih beralih ke investor yang menggelontor
Lalu apa kerja orang-orang kantor?

Bandung, Januari 2015




KRITIK / TELAAH MENGENAI
PUISI “KE KAWAH PUTIH”

A.           Biodata Penulis
M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahiran, beliau melanjutkan kuliah dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor dengan predikat cumlaude. Beliau telah banyak mengeluarkan karya seperti menulis cerpen, esai, dan puisi. 

B.            Alur Cerita
Puisi ini menceritakan tentang perjuangan seseorang yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. Di sana terdapat sawah-sawah berpetak, dan rumah-rumah yang tenang dan asri yang terletak di kaki gunung peninggalan nenek moyangnya. Kehidupan di sana masih banyak didominasi oleh petani dengan kerbaunya dalam membajak sawah. Bisa dkatakan kehidupan orang-orang di sana sangat bekerja keras dibanding orang-orang kantoran yang kerjanya hanya duduk-duduk dikursi di dalam gedung-gedung tinggi.
Seseorang tersebut sempat berpikir untuk beralih pekerjaan bersama orang-orang yang mayoritas bermata pencaharian sebagai penjual. Namun, ia kembali teringat pada kampung halamannya yang sangat jauh. Karena ia telah menyia-nyiakan ilmu pertanian yang telah didapatnya, maka lama-kelamaan tanah peninggalan nenek moyangnya dikuasai oleh para petinggi di kantoran. Mereka jadikan tanah tersebut sebagai rumah yang megah yang mereka jadikan sebagai lahan bisnis mereka.

C.           Kelebihan dan Kekurangan
1)             Kelebihan
a)       Hidup seseorang yang penuh dengan perjuangan.
2)             Kekurangan
a)           Para petinggi yang dengan seenaknya mengambil hak-hak masyarakat miskin.
b)          Seseorang tersebut tidak memiliki kepercayaan yang tinggi pada pekerjaannya, sehingga ia pergi jauh meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. 
D.           Simpulan
Sebuah perjuangan seseorang yang berasal dari Bandung, Jawa Barat untuk mempertahankan tanah warisan leluhur yang bermata pencaharian sebagai petani. Namun ia tergoda oleh pekerjaan yang berupah lebih besar, yang mengharuskan ia pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Karena kampung halamannya ia tinggal, maka datanglah petinggi-petinggi yang menguasai tanah warisan nenek moyangnya, yang mereka jadikan sebagai ladang usaha untuk memperkaya harta mereka dengan merampas hak milik orang lain.
E.            Saran
1)          Sabar dan yakinlah bahwa rezeki telah diatur oleh yang Maha Kuasa
2)          Bersyukurlah terhadap rezeki yang didapat.
3)     Jagalah tanah warisan leluhur, karena hal tersebut merupakan penghargaan dari diri kita terhadap mereka.
4)     Untuk para petinggi, sadarlah bahwa langkah mereka dalam mengambil hak orang lain merupakan keasalahan dan dosa terbesar dalam hidup.

Adakah Janji?


M. Shoim Anwar

 
KEDUNG ADEM


Saat kedung adem mengeringkan rumpun bambumu
Telaga telah menganga dahaga
Kukayuh pedal mencari sisa hujan
Di celah senyum yang tak juah rekah           
Bekisaranmu tak lagi berkokok          
Sangkar di teras telah lama menunggu
Dan ketika hujan datang seperti cinta yang kemaruk
Telaga-telaga melupakan asmaranya
Rumpun merimbun bersama rebung
Bekisar di teras rumahmu melagu merdu
Tapi aku takut mengayuh pedal kembali
Luapan itu bisa melepaskanku di dasar kali
Adakah kau masih menyimpan janji….

 


KRITIK / TELAAH MENGENAI
PUISI “KEDUNG ADEM”

A.           Biodata Penulis
M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahiran, beliau melanjutkan kuliah dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor dengan predikat cumlaude. Beliau telah banyak mengeluarkan karya seperti menulis cerpen, esai, dan puisi. 

B.            Alur Cerita
Puisi dengan judul “Kedung Adem”. Memiliki alur tentang hati sang kekasih yang sangat dingin karena ego yang dimiliki sangat kuat.  Hatinya telah haus dengan kasih sayang. Penulis berusaha mencari sisa-sisa cinta di dalam hati kekasihnya, walau senyum kekasihnya tak nampak lagi. Omelan kekasihnya tidak lagi terdengar. Penulis inginkan kembali pulang dalam hati kekasihnya.  Dan, saat cinta itu datang kembali secara bersamaan, hati dan cinta penulis merasa senang tak terkira karena kekasihnya mulai luluh dan membuka pintu hatinya. Namun, penulis tidak berani menjalin cinta kembali seperti semula karena masa lalu yang pernah dialaminya. Ingatan itu masih sangat segar di otaknya. Ia  juga berpikir, apakah benar kekasihnya masih ingat dengan janji dulu yang pernah mereka buat.
C.           Kelebihan dan Kekurangan
1)             Kelebihan
a)       Penulis menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran, sehingga ia berpikir matang-matang untuk menjalin hubungan kembali.
b)      Tidak patah semangat dalam mencapai keinginannya.
c)       Kata-kata yang dipakai penulis dalam mengibaratkan sangat bersastra.
2)             Kekurangan
a)       Sang penulis kurang berani dalam mengambil resiko lagi dalam mencintai karena telah mengalami pengalaman buruk.
b)          Terlalu fokus dalam memikirkan masa lalu yang pernah terjadi menimpanya. 
D.           Simpulan
Puisi dengan judul “Kedung Adem”. menceritakan tentang penulis yang telah lama menunggu datangnya kembali sang pujaan hati yang telah lama saling berjanji. ingin menjalin kembali cerita cinta bersama kekasihnya, namun ia takut karena masa lalu yang telah menimpanya begitu pekat terasa diingatannya.
E.            Saran
1)            Beranilah dalam mengungkapkan perasaan jika masih memiliki rasa.
2)    Beranilah mengambil resiko. Apabila memang sudah merasa lelah, pergilah mencari seseorang yang dapat membuatmu bahagia.