Senin, 09 April 2018

Salah Langkah


M. Shoim Anwar
                                              
                                                    KE KAWAH PUTIH
Kujilati punuk-punuk Soreang
Sawah-sawah berpetak di kaki gunung
Rumah-rumah di jauh sana
Seperti masa depan tenang dan sunyi
Petani dan kerbau masih  mencumbu nasib
Melawan gedung-gedung yang tak kuasa ditampik

Ke terminal Cipede kuangankan
Bersama para pindang dalam angkot yang pengap
Kawah Putih yang jauh
Sejauh langkah penyair yang terus menggarap sajak-sajaknya
Telah kau sisihkan sekolah pertanianmu
Sebab tanah moyangmu terus mengerut
Jadi semburat tumpukan semen dan batu bata
Seperti nasib kita
Kawah Putih beralih ke investor yang menggelontor
Lalu apa kerja orang-orang kantor?

Bandung, Januari 2015




KRITIK / TELAAH MENGENAI
PUISI “KE KAWAH PUTIH”

A.           Biodata Penulis
M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahiran, beliau melanjutkan kuliah dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor dengan predikat cumlaude. Beliau telah banyak mengeluarkan karya seperti menulis cerpen, esai, dan puisi. 

B.            Alur Cerita
Puisi ini menceritakan tentang perjuangan seseorang yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. Di sana terdapat sawah-sawah berpetak, dan rumah-rumah yang tenang dan asri yang terletak di kaki gunung peninggalan nenek moyangnya. Kehidupan di sana masih banyak didominasi oleh petani dengan kerbaunya dalam membajak sawah. Bisa dkatakan kehidupan orang-orang di sana sangat bekerja keras dibanding orang-orang kantoran yang kerjanya hanya duduk-duduk dikursi di dalam gedung-gedung tinggi.
Seseorang tersebut sempat berpikir untuk beralih pekerjaan bersama orang-orang yang mayoritas bermata pencaharian sebagai penjual. Namun, ia kembali teringat pada kampung halamannya yang sangat jauh. Karena ia telah menyia-nyiakan ilmu pertanian yang telah didapatnya, maka lama-kelamaan tanah peninggalan nenek moyangnya dikuasai oleh para petinggi di kantoran. Mereka jadikan tanah tersebut sebagai rumah yang megah yang mereka jadikan sebagai lahan bisnis mereka.

C.           Kelebihan dan Kekurangan
1)             Kelebihan
a)       Hidup seseorang yang penuh dengan perjuangan.
2)             Kekurangan
a)           Para petinggi yang dengan seenaknya mengambil hak-hak masyarakat miskin.
b)          Seseorang tersebut tidak memiliki kepercayaan yang tinggi pada pekerjaannya, sehingga ia pergi jauh meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. 
D.           Simpulan
Sebuah perjuangan seseorang yang berasal dari Bandung, Jawa Barat untuk mempertahankan tanah warisan leluhur yang bermata pencaharian sebagai petani. Namun ia tergoda oleh pekerjaan yang berupah lebih besar, yang mengharuskan ia pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Karena kampung halamannya ia tinggal, maka datanglah petinggi-petinggi yang menguasai tanah warisan nenek moyangnya, yang mereka jadikan sebagai ladang usaha untuk memperkaya harta mereka dengan merampas hak milik orang lain.
E.            Saran
1)          Sabar dan yakinlah bahwa rezeki telah diatur oleh yang Maha Kuasa
2)          Bersyukurlah terhadap rezeki yang didapat.
3)     Jagalah tanah warisan leluhur, karena hal tersebut merupakan penghargaan dari diri kita terhadap mereka.
4)     Untuk para petinggi, sadarlah bahwa langkah mereka dalam mengambil hak orang lain merupakan keasalahan dan dosa terbesar dalam hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar