M.
Shoim Anwar
KE
KAWAH PUTIH
Kujilati punuk-punuk Soreang
Sawah-sawah berpetak di kaki gunung
Rumah-rumah di jauh sana
Seperti masa depan tenang dan sunyi
Petani dan kerbau masih mencumbu nasib
Melawan gedung-gedung yang tak kuasa
ditampik
Ke terminal Cipede kuangankan
Bersama para pindang dalam angkot yang
pengap
Kawah Putih yang jauh
Sejauh langkah penyair yang terus
menggarap sajak-sajaknya
Telah kau sisihkan sekolah pertanianmu
Sebab tanah moyangmu terus mengerut
Jadi semburat tumpukan semen dan batu
bata
Seperti nasib kita
Kawah Putih beralih ke investor yang
menggelontor
Lalu apa kerja orang-orang kantor?
Bandung,
Januari 2015
KRITIK
/ TELAAH MENGENAI
PUISI
“KE KAWAH PUTIH”
A.
Biodata
Penulis
M.
Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang Jawa Timur. Setamat dari SPG
di kota kelahiran, beliau melanjutkan kuliah dengan jurusan Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, hingga
memperoleh gelar doktor dengan predikat cumlaude.
Beliau telah banyak mengeluarkan karya seperti menulis cerpen, esai, dan
puisi.
B.
Alur
Cerita
Puisi ini menceritakan
tentang perjuangan seseorang yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. Di sana
terdapat sawah-sawah berpetak, dan rumah-rumah yang tenang dan asri yang
terletak di kaki gunung peninggalan nenek moyangnya. Kehidupan di sana masih
banyak didominasi oleh petani dengan kerbaunya dalam membajak sawah. Bisa
dkatakan kehidupan orang-orang di sana sangat bekerja keras dibanding orang-orang
kantoran yang kerjanya hanya duduk-duduk dikursi di dalam gedung-gedung tinggi.
Seseorang
tersebut sempat berpikir untuk beralih pekerjaan bersama orang-orang yang
mayoritas bermata pencaharian sebagai penjual. Namun, ia kembali teringat pada
kampung halamannya yang sangat jauh. Karena ia telah menyia-nyiakan ilmu
pertanian yang telah didapatnya, maka lama-kelamaan tanah peninggalan nenek
moyangnya dikuasai oleh para petinggi di kantoran. Mereka jadikan tanah
tersebut sebagai rumah yang megah yang mereka jadikan sebagai lahan bisnis
mereka.
C.
Kelebihan
dan Kekurangan
1)
Kelebihan
a) Hidup seseorang yang penuh dengan
perjuangan.
2)
Kekurangan
a) Para petinggi yang dengan seenaknya
mengambil hak-hak masyarakat miskin.
b) Seseorang tersebut tidak memiliki
kepercayaan yang tinggi pada pekerjaannya, sehingga ia pergi jauh meninggalkan
kampung halamannya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
D.
Simpulan
Sebuah perjuangan seseorang yang
berasal dari Bandung, Jawa Barat untuk mempertahankan tanah warisan leluhur
yang bermata pencaharian sebagai petani. Namun ia tergoda oleh pekerjaan yang
berupah lebih besar, yang mengharuskan ia pergi merantau meninggalkan kampung
halamannya. Karena kampung halamannya ia tinggal, maka datanglah
petinggi-petinggi yang menguasai tanah warisan nenek moyangnya, yang mereka
jadikan sebagai ladang usaha untuk memperkaya harta mereka dengan merampas hak
milik orang lain.
E.
Saran
1) Sabar dan yakinlah bahwa rezeki telah
diatur oleh yang Maha Kuasa
2) Bersyukurlah terhadap rezeki yang
didapat.
3) Jagalah tanah warisan leluhur, karena
hal tersebut merupakan penghargaan dari diri kita terhadap mereka.
4) Untuk para petinggi, sadarlah bahwa
langkah mereka dalam mengambil hak orang lain merupakan keasalahan dan dosa
terbesar dalam hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar